Jumat, 23 Februari 2018

Kemenangan Farallon Akibat Tekanan IMF

Oleh :

Tempo.co

Selasa, 29 Juli 2003 08:47 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Kemenangan Farallon dalam proses divestasi BCA (Bank Central Asia) merupakan pengaruh dari tekanan IMF International Monetery Fund). Demikian menurut pengamat ekonomi Indef, Dradjat H. Wibowo kepada Tempo News Room di Gedung BI, Kamis (14/3), sebelum Farallon dipastikan keluar sebagai pemenang. "Ada dua hal, yaitu IMF secara politis tampaknya mendukung Farallon dan memang Farallon nilainya lebih tinggi. Sehingga kalau Stanchart benar yang menang, maka proses divestasi dianggap tidak transparan," tuturnya. Adanya faktor IMF di belakang Farallon, menurut Dradjat, karena sejak awal proses divestasi pihak Stanchart akan keluar sebagai pemenang. Setelah proses penawaran yang berjalan normal, ternyata Farallon bernilai lebih tinggi dari tiga konsorsium lainnya. Yaitu konsorsium Bank Mega, Stanchart dan GKBI. "Tampaknya itu pula yang dibawa Farallon kepada IMF dan mengajukan argumen bahwa proses penawaran tidak transparan jika sampai Stanchart yang menang," katanya. Hal itu pula yang agaknya dipersoalkan dalam Paris Club III. Dradjat menilai kelihatannya pemerintah tidak siap dengan risiko kegagalan Paris Club III, sehingga hal ini mendasari pula kemenangan Farallon. Dradjat yang secara pribadi bukan termasuk orang yang menyetujui divestasi dilakukan saat ini menilai Farallon lebih bisa diterima pasar daripada Stanchart, karena proses tendernya lebih transparan. Namun keputusan apapun akan menimbulkan gejolak. Dan gejolak yang terjadi bukan disebabkan Farallon atau Stanchart, karena sebagian pihak masih menganggap transaksi penjualan belum saatnya dilakukan. Apalagi tidak ada jaminan bagi karyawan bahwa mereka tidak akan dirasionalisasi. Dia juga menyatakan, menurut pengetahuannyaa, tidak ada jaminan pemenangan tender BCA itu tidak akan mem-PHK karyawan BCA. "Setahu saya ada klausul yang memungkinkan bagi mereka, baik Farallon maupun Stanchart untuk merasionalisasi karyawan sesuai peraturan. Masalahnya, kalimat-kalimat ini bisa dipelintir. Yang jelas tidak ada jaminan eksplisit yang tertulis bahwa tidak akan lay off sama sekali," katanya. Hal yang perlu dilakukan Farallon, kata Dradjat, adalah menutup obligasi rekap pemerintah yang masih ada di BCA sebesar Rp 58,2 triliun. "Alternatifnya, Farallon bisa melakukan debt to bondswap," katanya. (Istiqomatul)

     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Deretan Kasus Rizieq Shihab, 11 Tuntutan dalam 9 Bulan

    Kabar kepulangan Rizieq Shihab pada 21 Februari 2018 membuat banyak pihak heboh karena sejak 2016, tercatat Rizieq sudah 11 kali dilaporkanke polisi.