Stasiun UI Masih Gunakan Tiket Kertas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sistem e-ticketing Kurang Sosialisasi

    Sistem e-ticketing Kurang Sosialisasi

    TEMPO.CO, Jakarta - - PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyatakan Stasiun Universitas Indonesia (UI), Depok, masih memberlakukan tiket kertas. "Semua stasiun Jabodetabek sudah ada e-gatenya, kecuali Stasiun UI, karena memang masih ada masalah," kata Kepala Humas KAI, Mateta Rijalulhaq, di Stasiun Manggarai, Senin, 1 Juli 2013.

    Meski demikian, kata Mateta, penumpang yang telah memiliki tiket elektronik dapat melakukan perjalanan dari Stasiun UI. Petugas di stasiun tersebut akan memungut tiket elektronik secara manual.

    KAI dan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) mengganti tiket kertas menjadi tiket kartu elektronik untuk semua perjalanan KRL Commuter Line di 66 stasiun Jabodetabek sampai lintas Maja. Uji coba dilakukan pada 8 April - 30 Juni 2013, dengan jumlah transaksi penjualan tiket dengan kartu elektronik sebanyak 200 ribu per hari.

    Dengan e-ticketing yang mulai diterapkan hari ini, ada dua jenis tiket perjalanan yang dijual. Pertama, tiket single trip, untuk satu kali perjalanan. Kedua, tiket multi-trip atau berlangganan, dengan sistem potong saldo sesuai perjalanan. KAI dan KCJ menyarankan masyarakat menggunakan kartu multi-trip untuk mengurangi antrean di loket.

    Penerapan e-ticketing dengan single trip dan multi-trip tersebut jug diikuti pemberlakuan tarif progresif dengan public service obligation (PSO). Penumpang hanya dikenai tarif Rp 2.000 untuk lima stasiun pertama dan Rp 500 untuk setiap tiga stasiun berikutnya. Direktur Utama KAI, Ignasius Jonan menjelaskan, dengan tarif progresif, harga tiket perjalanan KRL akan lebih murah. Tarif KRL untuk rute Jakarta - Bogor yang semula Rp 9.000 sekarang menjadi Rp 5.500 dengan tarif progresif.

    MARIA YUNIAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.