Diduga Dukung Hanura, KPI Gelar Rapat Bahas MNC

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ki-Ka: CEO Grup MNC Hary Tanoesoedibjo, Direktur Utama MNC Sky Vision Tbk, Bambang Rudijanto Tanoesoedibjo, Dirut Bursa Efek Indonesia Ito Warsito berbincang dalam acara pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (9/7). TEMPO/Aditia Noviansyah

    Ki-Ka: CEO Grup MNC Hary Tanoesoedibjo, Direktur Utama MNC Sky Vision Tbk, Bambang Rudijanto Tanoesoedibjo, Dirut Bursa Efek Indonesia Ito Warsito berbincang dalam acara pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (9/7). TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menggelar pertemuan untuk membicarakan dugaan pengerahan dukungan bagi Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) melalui media oleh MNC Group. "Kami ini mau kumpul, rapat untuk membicarakan itu," kata Ketua Komisi Bidang Penyiaran KPI, Nina Armando, saat dihubungi Tempo, Senin, 6 Mei 2013.

    Sayangnya ia mengatakan belum bisa memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai dugaan tersebut. Hal itu didasari oleh hasil pemantauan KPI belakangan ini terhadap sejumlah kampanye partai politik di televisi dan radio.

    Beberapa program non iklan yang diawasi adalah berita, talk show, serta running text. "Kami juga mewaspadai, bisa saja kampanye dimasukkan ke non iklan seperti sinetron," kata Wakil Ketua KPI, Ezki Suyanto. Ia mencemaskan adanya kampanye yang disisipkan dalam program dengan "rating" tinggi seperti acara komedi dan musik.

    Ia menjelaskan, dalam pengawasan kampanye melalui televisi dan radio, KPI mengacu pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyatakan masa kampanye berlangsung selama 21 hari sebelum hari-H.

    KPI pun akan duduk bersama KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Banwaslu) untuk membicarakan aturan kampanye melalui radio dan televisi, termasuk untuk pengawasan non iklan. "Karena kalau yang non iklan, sudah jelas tidak boleh untuk kampanye," ujarnya.

    Salah satu hal yang akan disoroti KPI, KPU, dan Banwaslu adalah pemberian ucapan selamat hari raya atau hari besar nasional atas nama partai politik tertentu. "Seperti aturan pemberian ucapan selamat hari raya Natal, Lebaran, bahkan Hari Kartini, nanti harus kami putuskan bersama," kata Ezki.

    Hal lain yang harus dicermati stasiun televisi dan radio adalah pemberian porsi yang sama bagi partai-partai politik untuk berkampanye. KPI juga akan menelisik soal durasi dan tarif tayangan tersebut.

    Jika ada partai politik yang melanggar aturan kampanye, KPI akan mengeluarkan sanksi administratif. Sanksi yang akan diberikan pertama kali berupa teguran. "Kalau pelanggarannya sudah berat, penghentian sementara bisa dikeluarkan," kata dia.

    Ia mengungkapkan, surat pernyataan pemberian sanksi oleh KPI kemudian ditembuskan kepada Banwaslu. "Karena untuk partai politiknya, yang bisa menindak ya Banwaslu," ujarnya.

    MARIA YUNIAR



    Topik Terhangat:
    Pemilu Malaysia
    | Harga BBM | Susno Duadji | Ustad Jefry | Caleg


    Baca juga:

    Saling Pecat Di Tubuh Kadin Indonesia

    Ekspor Gas Rugikan Negara

    Bank BUMN Perlu Dimerger

    Bakrie Telecom Merugi Rp 97,47 Miliar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.