Surya Paloh dan Edwin Rebutan Gunung Emas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Amston Probel

    TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Diam-diam, Banyuwangi menyimpan "gunung" emas dalam perut buminya. Tiga dari rencana lima zona eksplorasi pada 2009 memperlihatkan potensi emas Tujuh Bukit mencapai 2 juta ounce dan perak 80 juta ounce. Nilai tambangnya ditaksir sekitar US$ 5 miliar atau sekitar Rp 50 triliun.

    Keberadaan emas ini membuat banyak perusahaan berebut melakukan eksplorasi. Ada nama PT Indo Multi Niaga (IMN) dan mitranya asal Australia, Intrepid Mines Limited. Belakangan, dua perusahaan ini pecah kongsi. Saham PT IMN dijual kepada kolega Edwin Soeryajaya, Presiden Komisaris PT Adaro Energy Tbk. Adapun Interpid yang juga punya saham PT IMN memasukkan nama Surya Paloh, bos Media Group. Demikian laporan utama majalah Tempo edisi 22 Oktober 2012 berjudul "Sengketa Para Pendulang Emas".

    Perselisihan menjadi ruwet dan berujung pada ancaman untuk memperkarakan sengketa ke pengadilan, lantaran Intrepid merasa dikhianati IMN. Sejak memutuskan bergandengan tangan pada Agustus 2007, Intrepid, yang masuk melalui anak usahanya, Emperor Mines Limited, mengaku sudah merogoh kocek sekitar US$ 100 juta alias hampir Rp 1 triliun. Tapi, di tengah jalan, mereka melihat ada tanda-tanda mitranya bermain belakang, bahkan ada kabar telah mengalihkan sahamnya ke perusahaan lain.

    Dalam sebuah pernyataan kepada bursa saham Australia, Intrepid menyebutkan pengalihan itu. Mereka mengatakan, 80 persen saham IMN diyakini telah berpindah tangan dari pemegang sebelumnya, yakni pasangan suami-istri Andreas Reza Nazaruddin dan Maya Miranda Ambarsari. Pemilik terbaru disebut-sebut adalah PT Cinta Kasih Abadi, PT Selaras Karya Indonesia, Andreas Tjahjadi, dan Rahmad Deswandy.

    Andreas Tjahjadi tercatat sebagai presiden komisaris di IMN sekaligus direktur non-eksekutif di Seroja Investment, perusahaan yang berbasis di Singapura, yang menangani pengangkutan batu bara produksi PT Adaro Energy Tbk. Selain Andreas, direktur di Seroja Investment adalah Edwin Soeryadjaya, presiden komisaris di Adaro Energy.

    Pemimpin eksekutif Intrepid, Brad Gordon, mengatakan, masuknya juragan Media Group itu ke perusahaannya bertujuan membantu mempromosikan perusahaan dan kepentingan bisnisnya di Indonesia. Surya Paloh, kata Gordon, memiliki bisnis yang beragam, dari perminyakan dan gas sampai hotel dan properti.

    Para analis pertambangan di Australia mengatakan, posisi Surya tak lain merupakan backing bagi Intrepid. Maklum, bekas politikus Golkar itu ”dihadiahi” saham di tengah memanasnya sengketa antara Intrepid dan IMN. ”Masuknya Surya Paloh dimaksudkan untuk mendapat dukungan pengaruh dalam bernegosiasi dengan pihak-pihak lain yang beperkara,” ujar Peter Gray, analis dari Hartley's Ltd, seperti ditulis Australian Associated Press.

    Hubungan panas itulah yang memunculkan dugaan kuat di kalangan petinggi Intrepid bahwa ada pengaruh Edwin di balik pengalihan saham IMN. Sayang, Edwin ketika dihubungi tak mau memberi penjelasan. ”Saya bicarakan dulu di internal sebelum menanggapi,” ujarnya. Tapi, sampai berita ini ditulis, tanggapan yang ia janjikan tak kunjung diberikan.

    Intrepid pun mulai kesal dengan situasi ini karena dalam beberapa bulan terakhir Reza mendadak sulit dihubungi. ”Padahal, sampai Juli lalu, mereka masih meminta tambahan uang operasional US$ 3,7 juta,” kata salah seorang pejabat Intrepid yang ditemui di Jakarta. ”Sekarang aliran dana terpaksa kami hentikan dulu.”

    Setelah pekerja diliburkan, sepanjang September lalu, Intrepid menarik seluruh fasilitas dan peralatan untuk eksplorasi. Tujuh mesin pengeboran (rig) dan ratusan batang pipa, enam pompa air, serta beberapa unit generator diesel dibawa dari puluhan titik pengeboran di puncak Gunung Tumpang Pitu, lalu diangkut dengan puluhan truk ke Jakarta.

    Dengan keruwetan itu, proses eksploitasi tambang emas di Blok Gunung Tumpang Pitu tampaknya akan berlarut-larut. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas sekarang malah menaikkan pula permintaannya untuk mendapat bagian saham. Sebelumnya, ia menyebut angka 10 persen, sedangkan kini ia minta jatahnya ditambah jadi 20 persen. ”Kami belajar dari kasus Freeport. Masyarakat di sekitar Freeport tidak mendapat apa-apa,” ujarnya memberi alasan.

    Selengkapnya simak laporan Tempo "Sengketa Para Pendulang Emas"


    Y. TOMI ARYANTO | AKBAR TRI KURNIAWAN | IKA NINGTYAS (Banyuwangi)

    Berita Terpopuler Lainnya
    Petambang Liar Berebut Emas dengan Surya Paloh

    Rebutan Emas, Hutan Banyuwangi Jadi Korban
    Keputusan Jabar 1 di Tangan Megawati
    Busyro Kalah Saleh Dibandingkan dengan Novel
    Kunci Hidup Sukses ala Dahlan Iskan
    ''Pengajian'', Bahasa Sandi Koruptor


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proses Pembuatan Vaksin Virus Corona Dibanding Klaim Obat Hadi Pranoto

    Hadi Pranoto mengklaim obat herbal Antibodi Covid-19 berbeda dengan vaksin virus corona. Proses pembuatan vaksin memakan waktu setidaknya 12 bulan.