Bos Bumi Emosi Waktu Curhat Konflik Perusahaan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Ari Saptari Hudaya dan Direktur Dileep Srivastava saat Public Expose Insidentil di Wisma Bakrie, Jakarta, (13/10). BNBR menggelar penawaran terbuka penjualan sejumlah saham lima anak usahanya. TEMPO/Nickmatulh

    Direktur PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Ari Saptari Hudaya dan Direktur Dileep Srivastava saat Public Expose Insidentil di Wisma Bakrie, Jakarta, (13/10). BNBR menggelar penawaran terbuka penjualan sejumlah saham lima anak usahanya. TEMPO/Nickmatulh

    TEMPO.CO, Jakarta - Selepas mundur dari jabatannya sebagai direksi di Bumi Plc, Ari Sapta Hudaya kembali ke Indonesia dan berjanji akan fokus mengurusi PT Bumi Resources yang tengah dirundung masalah.

    Tetapi sebelumnya, ia menyempatkan waktu untuk bertemu dengan para pemegang saham dan wartawan untuk menjawab segala permasalahan yang merundung perusahaannya belakangan ini.

    Ia datang terlambat, hampir sekitar 30 menit setelah public expose di Hotel Four Season dimulai. Ari lalu menyeleksi semua pertanyaan terkait dengan konflik para pemegang saham di Bumi Plc untuk dijawab paling terakhir.

    "Semua yang penting dijawab di akhir," kata Ari sambil menghentak pulpen dengan keras di atas kertas, Selasa, 2 Oktober 2012.

    Masuk ke sesi akhir, Ari yang terakhir muncul di depan publik untuk paparan perusahaan secara langsung pada 2008 lalu pun berdiri dan mulai menuturkan jawaban atas isu yang ramai diberitakan media dalam sepekan terakhir.

    Berdiri tegak, Ari mengawali ceritanya soal awal dibangunnya usaha Bumi Resources yang bercita-cita ingin jadi perusahaan tambang terbesar di dalam negeri, bahkan mancanegara. Ia memaparkan soal masa kejayaan Bumi yang pernah mencapai pendapatan hingga US$ 8 miliar.

    "Apa ada perusahaan domestik yang bisa begitu? Oleh sebab itu, apa pun yang terjadi pada Bumi saat ini, Bumi tidak akan berhenti berproduksi," ucapnya. Pernyataan tersebut ia paparkan untuk menjawab keraguan para investor kecil yang hadir dan khawatir terhadap nasib aset mereka di perusahaan tersebut.

    Soal mundurnya ia dari Bumi Plc, ia menyatakan bahwa hal tersebut murni merupakan keputusannya. Mengingat di Bumi PLC ada sekitar 17 anggota direksi yang berbobot untuk mengurus perusahaan. Sementara itu, jika dia fokus di Indonesia, ia yakin bakal bisa mengembalikan kejayaan Bumi seperti dulu.

    Ia enggan menanggapi soal ributnya para pemegang saham saat ini. "Kalau pemegang saham ingin menghancurkan perusahaannya sendiri, apa itu namanya pemegang saham?" ucapnya dengan nada tinggi.

    Ari bahkan mengingatkan awak media agar menulis pemberitaan terkait Bumi dengan lebih hati-hati. Ia berjanji akan melakukan apa pun untuk melindungi perusahaannya. Bahkan, ia akan mencari para penulis berita yang turut menghancurkan usahanya.

    Konflik antara pemegang saham di Bumi Plc, mulai dari keluarga Bakrie, Samin Tan, dan Rothschild, menurut dia, bukanlah urusannya. "Soal hubungan mereka tanya langsung pada mereka, jangan tanya Ari Hudaya. Kalau mereka saling tidak senang, tanya saja. Tapi, jangan menghancurkan," ujarnya dengan suara lantang dan mata berkaca-kaca.

    Ia juga belum bisa menjawab soal upaya akuisisi perusahaan asing di Bumi. Begitu juga soal semua masalah yang dimulai dari keterangan Bumi Plc. setelah ia keluar dari perusahaan tersebut pada 24 September lalu, Ari enggan berkomentar lebih jauh.

    Yang jelas, ia saat ini hanya fokus mengurus kembali PT Bumi Resources supaya tidak terjatuh, meskipun bukan dia seorang pemegang saham di perusahaan tersebut. "Sebab saya punya ikatan emosional terhadap perusahaan ini," katanya, sebelum berpamitan dari ruang public expose.

    GUSTIDHA BUDIARTIE

    Berita Terpopuler
    Ini Utang-utang BUMI

    Bumi Resources Paparkan Dugaan Penyimpangan Dana

    Hatta Upaya Jembatan Selat Sunda Tak Bebani APBN

    Berau: Tak Ada Penyidikan Independen dari Bumi Plc

    Produksi Tambang Emas Martabe Berhenti Sementara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Silang Pendapat tentang RUU PKS

    Fraksi-fraksi di DPR berbeda pendapat dalam menyikapi Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual atau RUU PKS. Dianggap rumit.