2015, Instalasi Listrik ke Malaysia Terpasang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja menyelesaikan pemasangan instalasi jaringan listrik tegangan tinggi di gardu induk Palur, Karanganyar, Jawa Tengah (8/12). Penambahan jaringan tersebut juntuk meningkatkan pelayanan PLN.  ANTARA/Hasan Sakri Ghozali

    Seorang pekerja menyelesaikan pemasangan instalasi jaringan listrik tegangan tinggi di gardu induk Palur, Karanganyar, Jawa Tengah (8/12). Penambahan jaringan tersebut juntuk meningkatkan pelayanan PLN. ANTARA/Hasan Sakri Ghozali

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Head of ASEAN Public Utility Authority Association, Syaiful B Ibrahim menyatakan instalasi listrik di Batam sangat penting untuk merealisasikan rencana Indonesia ekspor listrik ke Malaysia pada 2017. Karena itu ia menilai Indonesia sudah menyiapkan instalasi listrik pendukung terbangun di Batam paling lambat di 2015.

    "Hal ini sangat menguntungkan Indonesia karena akan menambah pendapatan negara," katanya di kantor pusat PLN, Rabu, 26 September 2012. Rencana ekspor listrik PLN itu termasuk dalam kerja sama Sumatera-Peninsular Interconnection Project.

    Nantinya setelah instalasi tersambung dengan Malaysia, menurut Syaiful, Indonesia juga berpotensi memasok atau membeli listrik dari negara lain. Hal ini karena sudah banyak negara-negara ASEAN yang instalasinya sudah tersambung dengan Malaysia.

    Sementara itu Direktur Utama Bright PLN Batam, Dadan Koerniadipura, mengatakan, ada beberapa hal yang harus dievaluasi terkait rencana tersebut. Pertama, masalah polusi yang dihasilkan dari pembangkit tersebut. Bulan Oktober mendatang direncanakan ada pertemuan kedua negara membahas polusi tersebut.

    “Jangan sampai mereka (Malaysia) enak tapi tidak mau menanggung polusinya," kata Dadan. Masalah polusi ini juga akan menjadi prioritas karena berkaitan dengan penalty carbon.

    Selain itu, kebutuhan listrik Malaysia juga akan menjadi bahan pertimbangan PLN karena berkaitan dengan instalasi yang akan dibangun di Batam dan kebutuhan listrik di Batam itu sendiri. Saat ini surplus listrik di Batam mencapai 140 Mega Watt dengan beban puncak 280 Mega Watt, sedangkan untuk memenuhi ekspor harus ada surplus minimal 500 Mega Watt.

    "Harga jual kepada Malaysia juga akan kami pertimbangkan. Jangan sampai dikenakan harga subsidi," ujar Dadan. Ia menekankan kerja sama ini lebih bersifat business to business sehingga harus dikomersialkan.

    Tarif dasar listrik di Malaysia saat ini adalah Rp 1.700 per Kilo Watt sedangkan dari hitung-hitungan PLN, harga jual listrik Indonesia ke negara jiran tersebut diperkirakan Rp 1.400 per Kilo Watt. “Kami berharap harga jual listrik ke sana minimal sama dengan tarif dasar listrik di Malaysia. Sehingga masih ada margin positif bagi Indonesia,” kata Dadan.

    Dadan mengatakan untuk pembangunan instalasi ini pihaknya akan mencari investor asing karena PLN Batam ataupun pemerintah daerah sendiri tidak mampu jika harus mendanainya sendiri. Dalam hitung-hitungannya, jika kebutuhan listrik Malaysia mencapai 1 juta mega watt, maka dibutuhkan investasi minimal US$ 1 miliar untuk membangun instalasi terkait.

    Nilai investasi ini belum termasuk pembangunan kabel laut yang besarannya masih tergantung pada berapa banyak sirkuit digunakan. "Intinya kami mau-mau saja, tetapi hal-hal ini, terutama polusi dan investasi, masih menjadi pertimbangan utama," kata Dadan.

    SYAILENDRA

    Berita Manarik Lainnya
    Kalimantan Timur Buka Peluang Investasi PLTN 
    YLKI Terima Laporan Pungutan Liar Listrik

    PLN Pantau Elektrifikasi per Kabupaten

    Listrik Nyala di Kepulauan Seribu Utara Ditunda 

    Proyek Listrik 10 Ribu MW Bermasalah Sejak Awal  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pertanyaan Ganjil dalam TWK yang Mesti Dijawab Pegawai KPK

    Sejumlah pertanyaan yang harus dijawab pegawai KPK dalam TWK dinilai nyeleneh, mulai dari hasrat seksual hingga membaca doa qunut dalam salat.