Sukhoi Ternyata Menjadi Pesaing Utama Pesawat Cina

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sukhoi Superjet-100 di Bandara Halim Perdanakusumah. fotografersha.livejournal.com

    Sukhoi Superjet-100 di Bandara Halim Perdanakusumah. fotografersha.livejournal.com

    TEMPO.CO , Jakarta:- Industri pesawat penumpang Sukhoi Superjet 100 (SSJ 100) disebut-sebut sebagai era kebangkitan Rusia pasca runtuhnya Uni Soviet. Pesawat yang ditawarkan ke sejumlah negera berkembang ini dianggap menjadi pesaing utama MA 60, pesawat produksi Xian Aircraft China.

    Menurut pemerhati industri penerbangan, Alvin Lie, pesawat komersial Rusia dan Cina itu kualitasnya hampir sama. Jika dibandingkan dengan pesawat buatan Amerika dan Eropa, beberapa sistemnya bahkan lebih baik. “Buatan mana saja asal sudah mempunyai sertifikasi dari Eropa dan Amerika berarti layak terbang,” ujarnya, Kamis 10 Mei 2012.

    Sukhoi yang dibangun sejak 1939, dikenal sebagai pesawat militer. Berbagai varian pesawat tempur digunakan oleh lebih dari 20 negara. Indonesia termasuk pemakai pesawat buatan Rusia itu, yakni jenis MK27 dan MK30. Rencananya, Indonesia tahun ini menambah satu skadron (16 pesawat tempur).

    Kebangkitan industri pesawat komersial Rusia dimulai sejak 2000. Tujuh tahun kemudian, lahir Sukhoi Superjet 100. Pada 2008, pesawat ini melakukan uji coba terbang dan terbang perdana pada rute komersial dari Yereven ke Moskow pada 21 April 2011.

    Sukhoi menggandeng Boeing asal Amerika Serikat sebagai konsultan untuk pemasaran, manajemen desain, sertifikasi, manufaktur dan program dukungan purnajual. Pesawat ini juga dilengkapi berbagai komponen buatan Prancis dan Inggris. Hasilnya, Sukhoi yang dijual dengan harga US$ 32 juta (setara Rp 288 miliar) ini diklaim lebih irit bahan bakar 10 persen ketimbang pesawat di kelasnya.

    Sedangkan Cina, mulai mengembangkan industri pesawat komersial pada 1980. Melalui Xian Aircraft Company, cikal bakal produsen pesawat militer sejak 1958, mengembangkan pesawat penumpang digenjot. Xian juga mengajak Boeing sebagai konsultan dan berbagai perusahaan pesawat asal Kanada, Italia, Prancis, serta Jerman.

    PT Merpati Nusantara Airlines, salah satu pengguna MA 60 buatan Xian. MA 60 dipilih karena memiliki keunggulan seperti mampu mendarat di daerah bandara kecil. ”Beberapa sistemnya lebih baik dibanding Boeing,” ujar Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines, Sardjono Jhony Tjitrokusumo.

    Menurut dia, Xian Aircraft China dan Sukhoi Rusia sama bagusnya dengan Boeing Amerika dan Airbus Eropa. Untuk pesawat sejenis, kata dia, sistem yang digunakan Sukhoi dan Airbus sama. Sukhoi bahkan lebih unggul pada beberapa sistem seperti otomasi gerak pesawat dan kontrol. Begitu juga dengan Xian. “Auxiliary power unit, sistem pendaratan dan kapabalitasnya, Xian lebih baik.”

    ALI NY | AKBAR TRI KURNIAWAN | SUNDARI | ELLIZA | DARI BERBAGAI SUMBER

    Berita terkait
    Superjet 100, Pesawat Penumpang Pertama Sukhoi
    Video Kecanggihan Sistem Darurat Sukhoi 
    Ternyata Ada 50 Penumpang di Sukhoi Superjet 
    Sukhoi Superjet 100 Sudah Standar Eropa
    Alasan Sukhoi Buat Pesawat Komersial


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.