Biaya Rekonstruksi Jepang US$ 600 Miliar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Lee Jin-man

    AP/Lee Jin-man

    TEMPO Interaktif, Tokyo - Lembaga pemeringkat utang Standard & Poor's menyatakan biaya rekonstruksi Jepang bisa menelan dana hingga US$ 600 miliar untuk membangun kota yang dilibas gempa dan tsunami pada 11 Maret lalu. Bencana itu juga berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi negeri ini.

    Biaya pembangunan kembali bisa berkisar 20-50 triliun yen (setara dengan US$ 245-612 miliar). Namun S&P meramalkan dana yang dibutuhkan mencapai 30 triliun yen jika pemerintah tidak menaikkan pajak. Angka ini lebih tinggi daripada perkiraan pemerintah sebelumnya, yaitu 25 triliun yen, di luar biaya yang dikeluarkan untuk bencana nuklir.

    "Bencana ini diperkirakan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan jangka menengah Jepang," kata lembaga ini dalam keterangannya kepada kantor berita AFP. Standard & Poor's juga memperkirakan biaya yang dikeluarkan akan meningkatkan defisit fiskal Jepang di atas perkiraan sebelumnya secara kumulatif, yaitu 3,7 persen dari produk domestik bruto hingga 2013.

    Bencana tersebut memangkas peringkat outlook utang luar negeri Jepang dari sebelumnya stabil menjadi negatif. S&P juga menetapkan peringkat kredit jangka panjang Jepang menjadi AA-. Kondisi keuangan Jepang diperkirakan bakal melemah selama dua tahun mendatang bila tidak ada konsolidasi fiskal.

    Menteri Keuangan Yoshihiko Noda menolak berkomentar tentang peringkat utang tersebut. "Kami berhasil mengamankan sumber daya keuangan (untuk anggaran gempa tambahan) tanpa menerbitkan obligasi pemerintah yang baru," katanya.

    Meski terpuruk, menurut Standard & Poor's, kondisi perekonomian Jepang masih didukung sejumlah kelebihan, antara lain sistem keuangan yang kuat diimbangi dengan restrukturisasi dan diversifikasi ekonomi tahun-tahun berikutnya. Jepang adalah kreditor eksternal terbesar di dunia, dengan aset bersih diperkirakan mencapai 322 persen dari pendapatan negara tahun lalu.

    Tak hanya peringkat utang, penjualan retail negeri ini juga jeblok. Data yang dilansir Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang menyatakan bulan lalu tingkat penjualan eceran merosot 8,5 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Ini adalah penurunan paling tajam selama 13 tahun terakhir dan kedua terburuk dalam sejarah sejak 1980.

    Pada Maret lalu, penjualan otomotif juga turun 32,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan mesin berkurang 17,3 persen, pakaian dan tekstil 10 persen. Sebaliknya, penjualan bahan bakar naik 5,1 persen. "Konsumen mengerem nafsu belanja sehingga perdagangan retail turun," kata Takeshi Minami, ekonom Norinchukin Research Institute.

    Sepanjang April hingga September tahun ini, penjualan eceran tetap lemah. Tsunami merusak pembangkit listrik tenaga nuklir utama sehingga menyebabkan kekhawatiran kekurangan pasokan listrik menjelang musim panas.

    AP | AFP | REUTERS | DEWI RINA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hasil Sensus 2020 yang Menentukan Penentuan Kebijakan Pembangunan

    Akan ada perbedaan pada penyelenggaraan sensus penduduk yang ketujuh di tahun 2020. Hasil Sensus 2020 akan menunjang penentuan kebijakan pembangunan.