Kepala BPPN Bantah Bank Lippo dan BII Masih Dikendalikan Pemilik Lama

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Kepala Bagian Penyehatan Bank Nasional I Putu Gede Ary Suta, membantah Bank Lippo dan Bank Internasional Indonesia (BII) yang masih dalam penanganan BPPN masih dikendalikan oleh pemilik lama. “Saya pikir tidak ada dikendalikan itu, yang mengendalikan adalah BPPN,” tegas Putu kepada wartawan yang mencegatnya disela-sela penmeriksaan pendahuluan tender PT. Indo Mobil oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) di Jakarta, Kamis (7/2). Menurut Putu, meski kedua bank rekap tersebut masih dikelola oleh orang-orang lama tetapi juga menempatkan wakilnya ditingkat komisaris dan direksi. Sehingga, lanjutnya, kekawatiran kemungkinan terjadinya transfer keuntungan karena masih adanya orang lama yang duduk di tingkat komisaris dan direksi di kedua bank rekap tersebut tidak akan terjadi. Seperti diketahui, meski dalam status dalam penyehatan, di BII masih bercokol orang-orang lama dari group Sinar Mas begitu juga di Bank Lippo dengan masih ditunjuknya beberapa direksi lama untuk tetap menduduki jabatan direksi. Banyak kalangan mengkhawatirkan terjadinya transfer keuntungan akibat banyaknya pengelola lama dalam kedua bank tersebut. Tindakan demikian tentu saja akan merugikan pemerintah dalam hal ini BPPN sebagai pemilik baru. BPPN membentuk tim pengelola dan tim pengawas di kedua bank tersebut. Jadi, lanjut dia, pada saatnya nanti kalau kedua bank ini tidak dalam status penyehatan, maka akan kembali menjalankan peran sebagai bank. “Di kedua bank tersebut nanti akan dipilih direksi dan komisaris yang difinitif, disitulah kita atur lagi. Sekarang ini kan cuma tim pengawas dan pengelola,” papar Putu. (Ebnu Yufriadi-Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.