Rabu, 14 November 2018

Pengusaha Rokok dan Tembakau Keluhkan Nihilnya Bantuan Modal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/M Taufiqurohman

    TEMPO/M Taufiqurohman

    TEMPO Interaktif, Banyuwangi - Gabungan Pengusaha Rokok dan Asosiasi Perajin Pedagang Tembakau Banyuwangi hari ini mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Mereka mengeluhkan nihilnya bantuan modal dari Pemerintah Banyuwangi, meskipun setiap tahun Banyuwangi menerima dana bagi hasil cukai rokok. 

    Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Rokok Samsul Hadi, tahun 2009 dana bagi hasil cukai rokok yang diterima Banyuwangi sebesar Rp 5,071 miliar. Tahun ini, malah naik menjadi Rp 5,1 miliar. Namun tidak sepeser dana tersebut dinikmati oleh pengusaha rokok, pedagang dan petani tembakau. "Padahal kami kesulitan modal," kata Samsul kepada wartawan, Rabu (07/04).

    Samsul mengatakan, dari 12 perusahaan rokok, empat perusahaan diantaranya sudah gulung tikar. Delapan perusahaan yang masih bertahan, kata dia, mampu memproduksi 20 ribu batang per hari. 

    Ketua Asosiasi Perajin Pedagang Tembakau Katimun Sudarsono mengatakan, pedagang tidak bisa maksimal menyuplai tembakau ke perusahaan rokok karena terkendala modal. Sebab, pembayaran oleh perusahaan rokok dilakukan di belakang hari. Sementara pihak pedagang harus terlebih dulu membayar ke petani tembakau. "Kebanyakan kami rugi," kata dia.

    Menurut Katimun, jumlah pedagang tembakau saat ini mencapai 10 kelompok, dengan kemampuan produksi 1 ton per kelompok per hari.

    Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Abdul Kadir mengatakan, bantuan modal kepada pengusaha rokok dan pegadang tembakau bisa direalisasikan dengan mengalihkan pos anggaran pengadaan alat-alat pencacah tembakau sebesar Rp 2,92 miliar ke pos bantuan modal di Badan Pemberdayaan Masyarakat. 

    Menurut Kadir, pengalihan anggaran tersebut karena Dinas kesulitan memenuhi standar harga barang karena alat yang diminta pengusaha rokok tidak sesuai Standar Nasional Indonesia. "Daripada anggaran tidak dimanfaatkan, lebih baik di alihkan," kata dia.

    Pengalihan anggaran, kata Kadir, hanya bisa diajukan melalui Perubahan APBD 2010 pada Agustus mendatang. 

    IKA NINGTYAS

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?