Perekonomian Indonesia Diprediksikan Stagnan pada Semester I Tahun 2002

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Perekonomian Indonesia dipirkirakan mengalami stagnasi pada Semester I tahun 2002. “Meski kondisi politik baik, ekonomi tidak pulih karena perlu kepercayaan pasar,” kata Dandosi Matram, Pengamat Pasar Modal, dalam acara diskusi “Review Ekonomi Indonesia”, di Jakarta, Senin (28/1). Dandosi menambahkan, perekonomian Indonesia masih dalam ketidakpastian meskipun di tingkat global situasi resesi mulai stabil. “Amerika Serikat mulai menuju recovery, namun kapan resesi berakhir belum diketahui,” kata dia. Menurutnya lagi, sebagian pengamat ekonomi memperkirakan resesi akan berakhir pada Semester I. Namun pendapat lain mengatakan resesi kemungkinan berakhir pada akhir tahun ini. “Ekonomi AS akan meniru Jepang yaitu zero growth. Ini berpengaruh pada ekonomi regional, termasuk Indonesia,” kata dia menjelaskan. Dandosi mengungkapkan, untuk memproyeksikan ekonomi dan bisnis Indonesia cukup sulit karena pada 2001 ekonomi Indonesia berantakan akibat instabilitas politik. Dampak selanjutnya, kata dia, investor enggan bahkan membatalkan niat menanam modal di Indonesia. “Jadi, angka variabelnya banyak dan sulit diprediksi sehingga ketidakpastian makin besar,” papar Dandosi. Dia juga mengatakan, ekonomi Indonesia menghadapi systematic risk macro berupa risiko politik. Persoalan keamanan juga menjadi faktor penghambat. “Ini yang belum diperhatikan. Pada akhirnya terjadi currency risk akibat kebijakan sistem bebas devisa dan kurs mengambang,” ujar dia. Secara teoritis lanjut Dandosi, negara yang menganut kurs mengambang, perekonomiannya tidak akan stabil jika terjadi krisis. Selebihnya juga “tidak akan mengundang investasi,” kata dia. Ketidakmauan investor untuk menanamkan modal akibat kurs mengambang sehingga rupiah menjadi tidak stabil. (Hilman Hilmansyah-Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.