Sri Mulyani Ibaratkan Resesi Bagaikan Cuaca Buruk, Simak Caranya Menguatkan Ekonomi Masyarakat

Gestur Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani saat memberikan keterangan pers tentang realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 per akhir Oktober 2019 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin, 18 November 2019. Sri Mulyani mengatakan, secara tahunan belanja negara hanya tumbuh sebesar 4,5 persen, jauh lebih rendah jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang tumbuh 11,9 persen. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengibaratkan resesi sebagai cuaca buruk dengan hujan deras dan petir menyambar-nyambar. Jika tidak waspada, Indonesia bisa terdampak resesi tersebut.

"Kita bisa kesamber bledeknya dan hujannya ke sini karena hujannya merata. Cuma karena pendoponya bagus, baru, dan nggak bocor, udan deres yo ra popo neng njobo, neng kene tetep kering (di luar hujan deras, tidak apa-apa. Di dalam sini tetap kering)," kata Sri Mulyani, seperti dikutip Tempo, Ahad, 22 Januari 2023.

Baca: Dikritik AHY Soal Utang Negara yang Menumpuk, Begini Jawaban Anak Buah Sri Mulyani

Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani membeberkan guncangan-guncangan pada perekonomian dunia, mulai dari Covid-19 hingga perang Ukraina dan Rusia. Oleh sebab itu, ekonomi dunia masih melemah.

"Dalam situasi seperti ini, sama seperti ancaman pandemi, sama dengan ancaman harga minyak yang melonjak, harga pangan yang melonjak, APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) itu menjadi instrumen yang luar biasa penting untuk menjaga Indonesia, jaga masyarakatnya, jaga ekonominya, jaga dunia usahanya," tuturnya.

Sebagai informasi, pada tahun 2023 pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan mencapai 5 persen dibanding periode sama tahun lalu (year-on-year/yoy). Pertumbuhan ekonomi Indonesia ini cukup bagus dibanding banyak negara yang diperkirakan hanya akan bertumbuh 2 persen sampai 3 persen.

Kendati begitu, kata Sri Mulyani, pemerintah masih akan terus menjaga tren pemulihan ekonomi nasional di tengah risiko resesi global.

“Kita akan jaga perekonomian yang tumbuh tinggi agar tetap bertahan pada 2023. Kita akan tetap menjaga faktor-faktor yang mendukung perekonomian nasional, salah satunya konsumsi,” kata Sri Mulyani.

Berikut cara Sri Mulyani lewat Kementerian Keuangan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya dalam menguatkan ekonomi masyarakat yang dirangkum Tempo.

Menjaga konsumsi masyarakat

Untuk menjaga konsumsi masyarakat, kata Sri Mulyani, pemerintah mengalokasikan dana senilai Rp 104 triliun untuk program ketahanan pangan guna menjaga harga pangan agar tidak mengalami inflasi yang terlalu tinggi.

Sri Mulyani juga berharap berbagai riset dapat dilakukan, baik oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) maupun oleh institusi riset lain, untuk meningkatkan produktivitas bahan pangan dari sisi pembibitan, pemupukan, dan pengairan.

Menjaga daya beli masyarakat

Selain itu, kata perempuan yang akrab dipanggil Ani itu, pemerintah akan menjaga daya beli masyarakat rentan melalui program-program perlindungan sosial, seperti Program Keluarga Harapan, pemberian sembako, dan penyaluran subsidi, termasuk subsidi energi yang harganya mengalami kenaikan signifikan di 2022.

“Kita menjaga daya beli masyarakat sampai subsidi naik tiga kali lipat. Keuangan negara harus sehat agar bisa menjaga masyarakat, jadi untuk inflasi saja, kita melakukan banyak hal,” ucapnya.

Meningkatkan KUR

Pemerintah juga meningkatkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi menjadi senilai Rp 370 triliun dengan suku bunga rendah hingga 3 persen.

“Kita akan terus menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” ujar Sri Mulyani.

AMELIA RAHIMA SARI

Baca juga: Sri Mulyani Cerita Pembiayaan untuk Bangun Kampus, dari APBN hingga Utang Rp 10 T ke Arab Saudi

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.






Transmart Tutup Permanen 7 Gerai, Pertanda Ekonomi Lesu atau Salah Strategi Bisnis?

7 jam lalu

Transmart Tutup Permanen 7 Gerai, Pertanda Ekonomi Lesu atau Salah Strategi Bisnis?

PT Trans Retail Indonesia atau Transmart menutup tujuh gerainya belakangan ini. Apakah ini pertanda ekonomi lesu atau ada kesalahan strategi bisnis?


Bursa Calon Gubernur BI, Apa Saja Kriteria yang Dibutuhkan dan Tantangannya di Tengah Gejolak Global?

10 jam lalu

Bursa Calon Gubernur BI, Apa Saja Kriteria yang Dibutuhkan dan Tantangannya di Tengah Gejolak Global?

Ekonom yang juga Direktur Segara Institut Pieter Abdullah Redjalam mengungkap kriteria calon Gubernur Bank Indonesia atau Gubernur BI. Apa saja?


Airlangga Hartarto: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Menunjukkan Prospek Cerah

13 jam lalu

Airlangga Hartarto: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Menunjukkan Prospek Cerah

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan prospek cerah.


Bom Waktu Lonjakan Inflasi Tersebab Kelangkaan Minyakita

22 jam lalu

Bom Waktu Lonjakan Inflasi Tersebab Kelangkaan Minyakita

Tak sedikit pedagang mengeluh kesulitan mendapatkan minyak goreng merek Minyakita di berbagai daerah. Hanya akan jadi bom waktu inflasi.


Rupiah Menguat 30 Poin di Level Rp 15.117 per Dolar AS

1 hari lalu

Rupiah Menguat 30 Poin di Level Rp 15.117 per Dolar AS

Rupiah menguat 30 poin di level Rp 15.117 per dolar AS dalam perdagangan Rabu, 8 Februari 2023


BRI Targetkan Alokasikan KUR Rp 207 Triliun di 2023

1 hari lalu

BRI Targetkan Alokasikan KUR Rp 207 Triliun di 2023

BRI pada 2023 ini mendapat alokasi Kredit Usaha Rakyat atau KUR sebesar Rp 207 triliun. BRI komitmen untuk menyalurkannya sepanjang tahun ini.


Ekonomi Terkini: Kinerja Ekspor Tertinggi, Serikat Pekerja Pertamina Tolak Privatisasi PT PGE Melalui IPO

1 hari lalu

Ekonomi Terkini: Kinerja Ekspor Tertinggi, Serikat Pekerja Pertamina Tolak Privatisasi PT PGE Melalui IPO

Berita ekonomi dan bisnis terkini. Mulai dari kinerja ekspor yang moncer hingga penolakan privatisasi PT PGE.


Utang Pemerintah Tembus Rp 7.733,99 Triliun, Anak Buah Sri Mulyani: Bukan Karena Demen Berutang

1 hari lalu

Utang Pemerintah Tembus Rp 7.733,99 Triliun, Anak Buah Sri Mulyani: Bukan Karena Demen Berutang

Utang Indonesia tembus Rp 7.733,99 triliun per Desember 2022. Instrumen utang diperlukan untuk menutup defisit anggaran yang sudah disetujui DPR.


Penurunan Angka Kemiskinan Rendah ketika Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, Bappenas: Ada Disrupsi Ekonomi

1 hari lalu

Penurunan Angka Kemiskinan Rendah ketika Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, Bappenas: Ada Disrupsi Ekonomi

Kepala Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa membuka penyebab rendahnya penurunan angka kemiskinan di tengah pertumbuhan ekonomi


Prediksi Ekonomi RI Triwulan I 2023 Tumbuh 4,9 Persen, Ini Alasan Indef

1 hari lalu

Prediksi Ekonomi RI Triwulan I 2023 Tumbuh 4,9 Persen, Ini Alasan Indef

Indef memproyeksikan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2023 tumbuh 4,9 persen dibanding periode yang sama tahun 2022.