Rupiah Masih Loyo di Tengah Kenaikan Suku Bunga, Ini Kata Ekonom

Karyawan bank mengitung uang 100 dolar amerika di Bank Mandiri Pusat, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa, semakin tertekan dampak wabah COVID-19. Rupiah ditutup melemah 240 poin atau 1,61 persen menjadi Rp15.173 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.933 per dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengungkapkan kebijakan suku bunga agresif yang ditunjukkan Bank Indonesia kemarin tidak serta-merta mempengaruhi sentimen pelaku pasar keuangan terhadap pasar keuangan domestik. Kemarin, BI mengerek suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin.

"Suku bunganya lebih tinggi dari ekspektasi pasar sedemikian berpotensi mendukung penguatan rupiah terbatas. Namun, di sisi lainnya, terdapat potensi yield SUN meningkat terbatas," kata Josua saat dihubungi, Jumat, 23 September 2022.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih lesu di atas Rp 15 ribu per dolar Amerika pada akhir pekan ini. Di pasar spot hingga pukul 10.26 WIB, rupiah masih bertengger di level Rp 15.025 per dolar, melemah tipis sekitar 0,01 persen dari penutupan perdagangan kemarin Rp 15.023 per dolar Amerika.

Menurut Josua, investor tidak semata-mata mempertimbangkan nominal spread dari kebijakan suku bunga acuan atau spread dari nominal imbal hasil (yield) obligasi. Investor akan mempertimbangkan juga real yield dan real policy rate. Dengan kata lain, mereka melihat seberapa efektif kenaikan suku bunga dapat cepat mengendalikan inflasi. 

"Investor pada akhirnya juga mempertimbangkan kredibilitas dari suku bunga bank sentral untuk meredam inflasi. Dan mempertimbangkan peringkat utang pemerintah Indonesia yang investment grade dan dengan kondisi fundamental saat ini yang solid," ujar Josua.

Karena itu, momentum pertumbuhan ekonomi masih bisa terjaga di tengah kenaikan suku bunga. Ini yang menjadi pertimbangan dari investor untuk terus masuk ke pasar keuangan domestik. 

"Jadi kesimpulannya, spread dari nominal yield dan spread policy rate bukanlah satu-satunya indikator yang dipertimbangkan oleh investor," ucap Josua. 

Dengan policy mix moneter dan fiskal yang ditujukan untuk mengelola stabilitas perekonomian, kebijakan ini diharapkan dapat tetap mendorong daya tarik investasi ke pasar keuangan domestik. Sehingga, foreign capital flow yang mendukung perekonomian domestik bakal dapat terdorong untuk masuk.

Meski demikian, Josua menganggap kebijakan agresif bank sentral Amerika Serikat untuk menaikkan Fed Fund Rate hingga ke level 4,5 persen akan berdampak ke dalam negeri. BI diperkirakan bakal menaikkan suku bunga acuannya terus hingga level 5-5,25 persen sampai akhir tahun.

"Dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupuah yang pada akhirnya mendukung kondisi pasar SBN agar tidak makin melemah," kata dia.

Selain itu, kebijakan operation-twist dari BI menjaga daya tarif pasar keuangan Indonesia. Kebijakan yang sudah mulai dilaksanakan sejak Agustus lalu itu membatasi kenaikan yield tenor jangka panjang serta mendorong daya tarik SUN dengan tenor jangka pendek.

Kemudian, upaya pemerintah menjaga defisit APBN 2022 agar lebih rendah dari 4 persen terhadap PDB untuk mengarahkan defisit APBN 2023 maksimal 3 persen terhadap PDB pun akan turut mendorong daya tarik investor. Apalagi, sebagian negara lain masih diliput isu tingginya rasio utang dan defisit fiskal. 

"Dari beberapa faktor tersebut, maka pergerakan yield 10 tahun hingga akhir tahun diperkirakan akan berkisar 7-7,5 persen," kata Josua.

Baca Juga: Terpopuler Bisnis: Sri Mulyani Sebut Tantangan Fiskal Usai Pandemi, Rupiah Kian Tertekan

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.






Mengenal 5 Jenis Suku Bunga dalam Industri Perbankan

17 menit lalu

Mengenal 5 Jenis Suku Bunga dalam Industri Perbankan

Suku bunga bisa diartikan sebagai balas jasa yang diberikan bank kepada nasabahnya yang membeli atau menjual produknya.


OJK: Menaikkan Suku Bunga Bank Bukan Satu-satunya Cara Jaga Likuiditas

10 jam lalu

OJK: Menaikkan Suku Bunga Bank Bukan Satu-satunya Cara Jaga Likuiditas

OJK memastikan perbankan tidak akan serta merta menaikkan suku bunga pinjaman atau simpanannya untuk menjaga likuiditas.


Analis Perkirakan Dolar Menguat dalam Beberapa Bulan Mendatang, karena...

14 jam lalu

Analis Perkirakan Dolar Menguat dalam Beberapa Bulan Mendatang, karena...

Di tengah menguatnya indeks dolar, mata uang rupiah ditutup melemah 75 poin dalam perdagangan Senin sore, 3 Oktober 2022.


Ingatkan Inflasi 2023 Bisa Lebih dari 4 Persen, Bank Indonesia: Harga Pangan dan Energi Meningkat

18 jam lalu

Ingatkan Inflasi 2023 Bisa Lebih dari 4 Persen, Bank Indonesia: Harga Pangan dan Energi Meningkat

Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S Budiman menyebut risiko inflasi melebihi empat persen secara tahunan masih tinggi hingga 2023.


Pemerintah Diminta Jaga Inflasi Pangan Tak Melebihi 5 Persen agar Target Inflasi Nasional Tercapai

18 jam lalu

Pemerintah Diminta Jaga Inflasi Pangan Tak Melebihi 5 Persen agar Target Inflasi Nasional Tercapai

Inflasi pangan yang terjaga di kisaran 5 persen dapat membuat target inflasi nasional yang sebesar plus minus 4 persen di 2022 tercapai.


BPS: Inflasi September 1,17 Persen, Tertinggi Sejak Desember 2014

19 jam lalu

BPS: Inflasi September 1,17 Persen, Tertinggi Sejak Desember 2014

BPS mengumumkan tingkat inflasi pada bulan September 2022 sebesar 1,17 persen. Dengan begitu, inflasi tahunan kini mencapai 5,95 persen.


Inflasi September Diprediksi Melonjak jadi 6,08 Persen Setelah Deflasi di Agustus, Kenapa?

21 jam lalu

Inflasi September Diprediksi Melonjak jadi 6,08 Persen Setelah Deflasi di Agustus, Kenapa?

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memprediksi tingkat inflasi pada September 2022 bakal melonjak hingga melampaui target pemerintah. Kenapa?


Pengguna QRIS Terus Bertambah di Berbagai Pulau, Transaksi Naik Jadi Rp 9,66 Triliun

22 jam lalu

Pengguna QRIS Terus Bertambah di Berbagai Pulau, Transaksi Naik Jadi Rp 9,66 Triliun

Jumlah pengguna dan volume transaksi salah satu sistem pembayaran non tunai QRIS terus meningkat hingga saat ini.


Rupiah Diprediksi Melemah di Level 15.270 per Dolar AS, Analis Beberkan Penyebabnya

23 jam lalu

Rupiah Diprediksi Melemah di Level 15.270 per Dolar AS, Analis Beberkan Penyebabnya

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah hari ini dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah.


Rupiah Digital BI Tak Tambah Jumlah Uang Beredar di Indonesia

23 jam lalu

Rupiah Digital BI Tak Tambah Jumlah Uang Beredar di Indonesia

Bank Indonesia (BI) memastikan keberadaan rupiah digital atau central bank digital currency tidak akan membuat peredaran uang di Indonesia bertambah.