Ada Varian Covid-19 Omicron, Sri Mulyani Ingatkan Risiko Inflasi di Negara Maju

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Penampilan dua sahabat Sri Mulyani dan Retno Marsudi kerap mencuri perhatian, termasuk saat membuka G20 Summit di Italia/Foto: Facebook/Sri Mulyani

    Penampilan dua sahabat Sri Mulyani dan Retno Marsudi kerap mencuri perhatian, termasuk saat membuka G20 Summit di Italia/Foto: Facebook/Sri Mulyani

    TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dunia masih dihadapkan oleh ancaman pandemi Covid-19 yang belum berakhir pada 2022. Risiko dari sisi kesehatan, sosial, hingga ekonomi terus muncul seiring dengan merebaknya varian baru virus Corona, yakni Omicron, yang telah ditemukan di sejumlah negara.

    Salah satu dampak yang akan ditimbulkan dari ketidakpastian global ini adalah peningkatan inflasi di berbagai negara maju. Inflasi memungkinkan adanya imbas langsung ke harga konsumen yang meningkat pada tahun depan.

    “Hal yang perlu diwaspadai adalah peningkatan inflasi terutama pada production price indicator baik di negara maju, seperi Amerika Serikat, Eropa, dan bahkan RRT (Cina), maupun dari sisi kemungkinan transmisi ke harga konsumen yang akan meningkatkan karena kenaikan inflasi,” ujar Sri Mulyani dalam YouTube Sekretariat Presiden, Senin, 29 November 2021.

    Sri Mulyani melanjutkan, kenaikan inflasi akan mendorong perubahan kebijakan moneter di negara-negara maju. Salah satunyanya pengurangan stimulus moneter atau tapering off oleh Bank Sentral Amerika.

    Berbagai dampak dari adanya sinyal ketidakpastian global, kata Sri Mulyani, telah membuat Dana Moneter Internasional (IMF) mengoreksi prediksi angka pertumbuhan ekonomi global yang semula 5,9 persen pada 2021 menjadi 5,7 persen. IMF juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 4,9 persen menjadi 4,5 persen pada 2022.

    “Untuk Indonesia, kita harus menggunakan instrumen APBN untuk mempercepat pemulihan ekonomi. Pemulihan mulai terjadi secara akseleratif seiring penanganan Covid-19,” tutur Sri Mulyani.

    Dia meyakni pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kumulatif pada 2021 sesuai dengan outlook. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berkisar 3,5-4 persen pada akhir tahun nanti.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA

    BACA: Stafsus Sri Mulyani: Selain Dana Otsus, Dana Bagi Hasil Dukung Pembangunan Papua


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    RUU IKN: Ibu Kota Negara Baru Dinamai Nusantara

    Dengan UU IKN, pembangunan akan dilakukan secara bertahap. Ada tiga kementrian dan lebih dari dua ribu PNS yang akan dipindahkan pada tahap awal.