Erick Thohir Tutup 70 BUMN hingga 2021

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Menteri BUMN Erick Thohir saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 30 November 2020. Rapat tersebut membahas permasalahan asuransi Jiwasraya, road map BUMN, restrukturisasi BUMN dan lainnya. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri BUMN Erick Thohir saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 30 November 2020. Rapat tersebut membahas permasalahan asuransi Jiwasraya, road map BUMN, restrukturisasi BUMN dan lainnya. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan total 70 BUMN telah ditutup sampai 2021. Menurut dia, selain menutup BUMN, perampingan BUMN melalui holding membuat keuangan BUMN sehat.

    Pada kuartal III 2021, misalnya, BUMN berhasil mencetak untung Rp 61 triliun. Angka itu meningkat ketimbang triwulan yang sama pada 2020 yang hanya Rp 13 triliun. "Artinya efisiensi, transformasi, perubahan bisnis model terbukti proven berjalan dengan baik. Tapi itu saja tidak cukup, negara memerlukan keseimbangan lain," kata Erick dalam orasi ilmiah di Universitas Brawijaya, Sabtu, 27 November 2021.

    Dia bercerita banyak pihak yang merasa tersakiti dengan kebijakan-kebijakannya. Salah satu kebijakan yang dimaksud adalah perampingan perusahaan pelat merah dan anak-cucunya, baik melalui skema holding maupun subholding.

    "Inilah saat saya mengambil kebijakan di BUMN banyak kontroversi karena ada yang tersakiti, ada yang anti-perubahan. padahal hari ini negara membutuhkan tambahan pemasukan selain pajak," ujar Erick.

    Erick mencontohkan langkahnya membentuk holding perusahaan perkebunan yang membawahi PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Dulunya, terdapat belasan PTPN yang masing-masing memiliki lima direksi.

    Lantaran tidak efektif, Kementerian kemudian merampingkan PTPN ke dalam holding yang dipimpin oleh satu orang direksi. Berbagai tantangan pun muncul pasca-rencana holding diumumkan.

    "Karena ada banyak decission maker yang kehilangan tempat," kata dia.

    Namun, upaya ini mau tak mau harus ditempuh. Erick berujar, perusahaan pelat merah memiliki tugas yang berat. BUMN, kata dia, merupakan sepertiga pendorong perekonomian negara.

    Tersebab posisinya itu, kata Erick Thohir, perusahaan pelat merah harus memiliki bisnis proses yang baik agar sebagai korporasi, keberadaannya tak hanya dapat menjalankan tugas, tapi juga memperoleh keuntungan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA

    Baca juga:  Erick Thohir Cerita Banyak yang Tersakiti dan Anti-Perubahan dengan Kebijakannya

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    DKI Tutup Sementara PTM 100 Persen di Sekolah yang Terpapar Covid-19

    Pemprov DKI Jakarta menutup sejumlah sekolah yang menggelar PTM 100 persen karena terpapar Covid-19. Namun sejumlah sekolah sudah kembali berkegiatan.