Kemenhub Dorong Grab, Gojek, dan Maxim Pakai Kendaraan Listrik

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Fitur pemesanan ojek secara online, baik di GoRide (kiri) dan GrabBike, kini sudah tidak dapat diakses seiring dengan efektif berlakunya pembatasan sosial berskala besar atau PSBB di Jakarta per hari ini. TEMPO/Ariyani Yakti Widyastuti

    Fitur pemesanan ojek secara online, baik di GoRide (kiri) dan GrabBike, kini sudah tidak dapat diakses seiring dengan efektif berlakunya pembatasan sosial berskala besar atau PSBB di Jakarta per hari ini. TEMPO/Ariyani Yakti Widyastuti

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan penggunaan kendaraan listrik untuk transportasi umum setelah sebelumnya diinisiasi oleh pemerintah.

    Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi mengatakan pada tahap awal untuk mendorong penggunaan kendaraan listrik, pemerintah telah melakukan inisiasi yang diterapkan dalam penggunaan mobil dinas.

    Selanjutnya, secara bertahap para operator transportasi diharapkan bisa mulai menerapkannya. “Memang untuk tahap awal, penggunaan kendaraan listrik adalah pertama diinisiasi oleh pemerintah dan yang kedua untuk angkutan umum. Jadi kita sudah mendorong aplikator transportasi online Grab, Gojek, Maxim untuk menggunakan kendaraan listrik, berikutnya DAMRI juga akan segera me-launching penggunaan bus listrik,” ujarnya melalui siaran pers, Jumat, 12 November 2021.

    Sejauh ini, Budi memaparkan sejumlah hal yang masih menjadi tantangan adalah harga kendaraan listrik masih cukup tinggi terutama pada komponen baterainya.

    Terkait hal ini, pemerintah mengupayakan agar harga baterai semakin terjangkau, salah satunya dengan mulai dibangunnya pabrik baterai di Karawang, Jawa Barat, yang groundbreakingnya telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada September lalu.

    Kemenhub mendorong skema pembelian kendaraan bermotor tanpa baterai, yaitu dengan konsep tukar baterai atau swap baterai. Saat ini sudah ada beberapa perusahaan yang bergelut di bidang tersebut diantaranya PT Oyika Powered Solution dan PT. Swap Energi Indonesia.

    Dengan model swap baterai tersebut, nantinya pengguna dapat menuju ke minimarket terdekat yang menyediakan swap baterai, kemudian menukar baterai yang kosong dengan baterai yang telah terisi penuh. “Jadi pembelian sepeda motor listrik bisa lebih murah karena tanpa baterai, mereka cukup bayar sewa saja,” katanya.

    Adapun saat ini populasi sepeda motor listrik kurang lebih mencapai 10.300 yang sudah beredar di masyarakat. Tetapi setelah Perpres 55/2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai, perkembangan jumlah kepemilikan dan manufaktur industri kendaraan bermotor listrik juga meningkat. Dari semula yang hanya 5 sekarang sudah mencapai 22 APM sepeda motor listrik. Sementara untuk populasi mobil listrik masih di angka 1.500-an.

    BISNIS

    Baca juga: Haramkan Pinjaman Online yang Mengandung Riba, MUI Rekomendasikan 3 Hal

    Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    DKI Tutup Sementara PTM 100 Persen di Sekolah yang Terpapar Covid-19

    Pemprov DKI Jakarta menutup sejumlah sekolah yang menggelar PTM 100 persen karena terpapar Covid-19. Namun sejumlah sekolah sudah kembali berkegiatan.