Laju Rupiah Pekan Terakhir Oktober Diprediksi Fluktuatif

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Petugas penukaran mata uang asing tengah menghitung uang pecahan 100 dolar Amerika di Jakarta, Kamis, 24 Desember 2020. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat tipis 5 poin atau 0,03 persen ke level 14.200. Tempo/Tony Hartawan

    Petugas penukaran mata uang asing tengah menghitung uang pecahan 100 dolar Amerika di Jakarta, Kamis, 24 Desember 2020. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat tipis 5 poin atau 0,03 persen ke level 14.200. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi menyampaikan, dolar menguat terhadap mata uang lainnya pada Jumat, 22 Oktober 2021, dan rupiah ditutup di rentang Rp 14.100 hingga Rp 14.140.

    “Dalam perdagangan akhir pekan, rupiah ditutup stagnan walaupun sebelumnya sempat melemah 40 point di level Rp 14.122 dari penutupan sebelumnya di level Rp 14.123. Sedangkan untuk perdagangan minggu depan, tepatnya Senin, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif. Namun, ditutup melemah di rentang Rp 14.100 hingga Rp 14.140,” papar Ibrahim, pada Jumat, 22 Oktober 2021. 

    Ibrahim juga memaparkan, bahwa terdapat faktor internal dan faktor eksternal yang mendorong indeks dolar menjadi meningkat. Salah satu faktor internal yang ada, yaitu pandemi covid-19 yang terjadi di Indonesia.

    Covid-19 menjadi pelajaran yang berharga dan bisa menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk melangkah ke depan, menuju Indonesia yang lebih baik dan fundamental ekonomi yang semakin kokoh. Pandemi juga memberikan banyak pelajaran penting bagi seluruh golongan masyarakat, dengan mengekspos hal-hal yang masih perlu diperkuat di Indonesia.

    “Hal-hal tersebut antara lain sistem dan layanan kesehatan, logistik dan infrastruktur, digital technology, juga kompetensi sumber daya manusia. Selain tantangan dan pelajaran berharga, pandemi ini juga membuka begitu banyak peluang bagi Indonesia untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional,” papar Ibrahim.

    Salah satu peluang Indonesia, yaitu melakukan reformasi terhadap regulasi yang selama ini tumpang tindih, serta adanya kesempatan untuk melakukan konsolidasi domestik. Pada tahun 2020, saat pandemi menggoyang ekonomi global sehingga foreign direct investment ke Indonesia turun signifikan. Namun ekonomi tetap relatif lebih baik dibandingkan negara lain karena kita ditopang oleh investasi domestik. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Larang WNA dari 11 Negara Masuk untuk Cegah Varian Omicron

    Pemerintah telah berupaya membendung varian Omicron dari Covid-19. Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, pemerintah sudah membuat sejumlah kebijakan.

    Dapatkan 2 artikel premium gratis
    di Koran dan Majalah Tempo
    hanya dengan Register TempoID

    Daftar Sekarang (Gratis)