Wamenlu: Dunia Akan Meminta Minyak Nabati Lebih Banyak ke Depannya

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar membuka rangkaian acara

    Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar membuka rangkaian acara "Indonesia Sustainable Palm Oil: Global Future Solutions" di Paviliun Indonesia di Expo Dubai 2020, Selasa, 19 Oktober 2021. TEMPO/MARTHA WARTA SILABAN

    TEMPO.CO, Dubai -Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar mengatakan permintaan global akan minyak nabati pasti meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dunia. Salah satu bagian dari minyak nabati adalah minyak sawit.

    "Kita harus sadar bahwa dunia pasti akan meminta minyak nabati ke depannya. Populasi meningkat, tingkat pendapatan makin baik. Sehingga bagaimana produsen dan konsumen dari seluruh produk minyak nabati melakukan kerja sama untuk menghasilkan minyak nabati yang paling berkelanjutan," kata Mahendra Siregar kepada Tempo di Dubai Expo 2020, Selasa, 19 Oktober 2021.

    Ia mengatakan minyak sawit dan jenis minyak nabati lainnya bukan untuk dipersaingkan. "Jadi bukan dipersaingkan, karena itu akan membawa kondisi yang destruktif. Ini tawaran dan promosi Indonesia untuk mengagas dan mendorong pendekatan yang berbasis sustainable development goals untuk semua minyak nabati. Bukan hanya sawit."

    Hal ini menanggapi parlemen Uni Eropa telah mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan penggunaan Crude Palm Oil (CPO) pada 2021. Keputusan itu diambil setelah Parlemen Uni Eropa sepakat untuk menggunakan energi baru terbarukan (renewable energy) yang ramah lingkungan.

    Tertuang dalam "Report on the Proposal for a Directive of the European Parliament and of the Council on the Promotion of the use of Energy from Renewable Sources." Parlemen juga sepakat menekan hingga maksimal 7 persen penggunaan sawit untuk sumber energi terbarukan transportasi sampai 2030.

    Ia mengatakan perlu solusi yang menyeluruh dan konsisten dengan isu keberlanjutan itu. "Sebab yang dilakukan hanya melihat kondisi sawit, itu sebenarnya tidak sesuai dengan langkah dunia untuk menuju pembangunan berkelanjutan."

    Sebab kalau hanya sawit, kata dia, maka risiko dan jalan yang diambil itu akan makin destruktif pada lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

    Ia mengatakan Indonesia sudah melakukan kesepakatan dengan Uni Eropa dalam konteks ASEAN Uni Eropa untuk melakukan join working group dan platform melakukan SDG's dari semua minyak nabati. "Kita dorong di FAO untuk melakukan standar yang tidak diskriminatif untuk semua minyak nabati. Dan kita paham betul inilah solusi terbaik. Dan kita siap dan commit," kata mantan Dubes Indonesia untuk Amerika Serikat ini.

    Mahendra Siregar membuka rangkaian acara bertema “Indonesia Sustainable Palm Oil, Global Future Solutions” yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) bersama Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) di Paviliun Indonesia, Dubai Expo 2020, pada 19-21 Oktober 2021. Kegiatan ini sebagai bagian dari kampanye minyak sawit untuk pasar Uni Emirat Arab dan Timur Tengah.

    Baca Juga: Forum Bisnis Kelapa Sawit Indonesia di Dubai Expo 2020

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Larang WNA dari 11 Negara Masuk untuk Cegah Varian Omicron

    Pemerintah telah berupaya membendung varian Omicron dari Covid-19. Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, pemerintah sudah membuat sejumlah kebijakan.

    Dapatkan 2 artikel premium gratis
    di Koran dan Majalah Tempo
    hanya dengan Register TempoID

    Daftar Sekarang (Gratis)