WNI Sering Buang Devisa, Anak Buah Sandiaga: Periksa Kutil Saja ke Singapura

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rumah Sakit Mount Elizabeth di Singapura. Sumber: Parkway Life eRe/asiaone.com

    Rumah Sakit Mount Elizabeth di Singapura. Sumber: Parkway Life eRe/asiaone.com

    TEMPO.CO, Jakarta – Pemerintah akan mengembangkan wisata medis di beberapa destinasi, seperti Jakarta, Bali, dan Sumatera Utara. Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Henky Manurung mengatakan selama ini banyak warga negara Indonesia (WNI) yang membuang devisa untuk berobat ke luar negeri.

    “Sebelum Covid-19, negara kita jadi penyumbang devisa terbanyak untuk Singapura di bidang medical tourism. Orang periksa ada kutil saja harus ke Singapura. Ke depan rumah sakit kita bisa bersaing,” ujar Henky dalam dialog FMB9, Rabu, 13 Oktober 2021.

    Padahal, menurut Henky, Indonesia memiliki dokter dan tenaga medis yang kompetensinya setara dengan dokter di negara maju. Banyak dokter di dalam negeri yang dapat memberikan fasilitas kepada pasien seperti di rumah sakit-rumah sakit luar negeri.

    Di sisi lain, sejumlah daerah memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lokasi wisata medis karena keindahan alamnya. Di Bali, misalnya. Selain bisa menjalani pemeriksaan kesehatan, wisatawan dapat melancong ke titik-titik wisata alam hingga belanja.

    “Kalau ke Singapura kan kita hanya bisa ke kota,” katanya. Henky memastikan saat ini pemerintah bersama BUMN sedang mengembangkan pusat wisata medis di Bali yang digadang-gadang bisa menjadi kunci pemulihan ekonomi pasca-pandemi Covid-19.

    Wakil Gubernur Bali Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati atau Cok Ace mengatakan pemerintah setempat sudah lama melihat adanya potensi wisata medis di Pulau Dewata. Sebelum pandemi, kata dia, turis asing asal Australia acap memeriksakan gigi ke rumah sakit-rumah sakit di Bali.

    “Karena di Australia tarif periksa gigi tinggi sekali dan asuransi kesehatannya tidak bisa meng-cover itu,” ujarnya.

    Dia menyebut pengembangan wisata medis di Bali bisa dimulai dari pemeriksaan dengan rendah. Selain gigi, Ace menyebut pemeriksaan kecantikan juga bisa dikembangkan lebih dulu.

    “Kalau sudah berjalan, nanti dikembangkan ke yang lebih serius. Jadi kita bangun di sini saja karena devisa kita luar biasa dibuang-buang untuk berobat ke luar negeri,” katanya.

    Baca Juga: Bank DKI Buka Lowongan Kerja Account Officer Mikro, Simak Syaratnya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Persebaran Pengungsi di Indonesia Menurut UNHCR

    PBB mengucurkan dana untuk program respons sosial ekonomi inklusif untuk menghadapi Covid-19. UNHCR mendata persebaran penerima manfaat di Indonesia.