KKP Minta Pemilik Kapal KM Hentri-I Tunaikan Hak Korban ke Ahli Waris ABK

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang Anak Buah Kapal (ABK) KM Bandar Nelayan 188 bersujud usai tiba di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Jumat, 21 Mei 2021. Sebanyak 19 orang WNI ABK KM Bandar Nelayan 188 yang berhasil dievakuasi setelah mengalami kecelakaan kapal pada Jumat (14/5) lalu di perairan sebelah barat Australia menjalani proses repatriasi ke Indonesia dengan diangkut Kapal Angkatan Laut Australia HMAS Anzac. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

    Seorang Anak Buah Kapal (ABK) KM Bandar Nelayan 188 bersujud usai tiba di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Jumat, 21 Mei 2021. Sebanyak 19 orang WNI ABK KM Bandar Nelayan 188 yang berhasil dievakuasi setelah mengalami kecelakaan kapal pada Jumat (14/5) lalu di perairan sebelah barat Australia menjalani proses repatriasi ke Indonesia dengan diangkut Kapal Angkatan Laut Australia HMAS Anzac. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak lima anak buah kapal (ABK) KM Hentri-I telah mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Banten, pada Sabtu kemarin, 25 September 2021. Mereka adalah lima orang yang selamat setelah kapal dihantam gelombang tinggi dan terbakar di perairan Pulau Tanimbar Kei, Maluku Utara.

    "Kami semua berharap, musibah ini adalah kejadian terakhir,” kata Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Muhammad Zaini dalam keterangan tertulis di hari yang sama.

    Sebelumnya, kapal bermuatan 32 ABK ini berangkat dari Pelabuhan Muara Angke, Jakarta, pada 15 Agustus 2021. Pada 3 September 2021, kapal mengalami kecelakaan di laut pada 3 September 2021 di Perairan Tanimbar.

    Adapun pencarian oleh tim SAR sudah dihentikan sejak 21 September 2021. Beberapa hari lalu, tim SAR dikabarkan terus mencari 25 ABK lainnya yang hilang. Dalam keterangan resmi ini, KKP memastikan jumlah ABK yang hilang mencapai 27 orang.

    Saat kejadian, lima ABK yang selamat lalu ditolong nelayan setempat dan dievakuasi ke Kampung Mun, Pulau Tanimbar Kei. Setelah itu, kelima ABK dibawa ke Kota Tual dan dapat pemulihan di mess milik KKP.

    Di Bandara Soekarno Hatta, hadir juga pewakilan pemerintah Kabupaten Sukabumi. Selanjutnya, kelima ABK ini yaitu Asep Suryana, Ardian Rahman, Anggar Pramudya, Hengky Kurniawan dan La Asri, akan dibawa ke kampung halaman mereka di Sukabumi.

    Zaini memastikan hak awak kapal ikan ini bakal dipenuhi. Baik yang selamat maupun meninggal, sebagaimana tercantum dalam Perjanjian Kerja Laut serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    Khusus untuk awak kapal yang meninggal dunia, Zaiki meminta pemilik kapal perikanan memastikan bahwa ahli waris atau keluarganya menerima santunan kematian dan jaminan sosial lainnya. "Sesuai perundang-undangan,” kata Zaini. 

    BACA: Kemlu Jelaskan Kondisi 2 ABK yang Terjun ke Laut dari Kapal Cina


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Biarkan Satu Teman Yang Toxic Mempengaruhi Anda

    Berikut 5 tanda persahabatan yang beracun atau Toxic friendship, perlu evaluasi apakah harus tetap berteman atau cukup sampai di sini.