Evaluasi Ekonomi Tahun 2000

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Keberhasilan Indonesia dalam meningkatkan angka Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 4,8% pada tahun 2000 dan menurunkan defisit anggaran sebesar 3,2% dari perkiraan semula 4,8%, merupakan keberhasilan yang perlu dicatat. Hal tersebut dikatakan Menko Perekonomian, Rizal Ramli, dalam presentasinya di depan Rapat Koordinasi Menteri-menteri Ekonomi dan Industri, Senin (15/1) siang ini, di Gedung Bappenas, Jakarta.

    Rizal mengatakan, kenyataan jelas menunjukkan bahwa pertumbuhan yang cukup signifikan telah terjadi pada tahun 2000 dan kecepatan pertumbuhan tersebut memberikan pertana yang baik bagi pencapaian target ekonomi tahun 2001 ini.

    Menko menjelaskan, indikator kuat atas pertumbuhan ekonomi Indonesia juga terlihat dari angka peningkatan penggunaan listrik sebesar 11%, pertumbuhan sektor konstruksi sebesar 8,3% dan peningkatan penjualan semen sebesar 19% selama tahun 2000.

    Menyinggung target penjualan asset BPPN pada tahun 2000, Rizal mengatakan bahwa BPPN tidak hanya memenuhi target pendapatan mereka. Dengan diumumkannya kesepakatan menjelang akhir tahun lalu, yaitu penjualan asset sebesar US$ 350 juta milik Salim Group Palm Plantation kepada Kumpulan Guthire Berhad, Malaysia, dan penjualan saham BPPN sebesar US$ 400 juta di PT Indocement kepada Hedelberger, Jerman, negara mendapat pemasukan yang cukup besar.

    Di tahun 2001 ini, prioritas ekonomi pemerintah adalah melakukan konsolidasi lebih lanjut atas apa yang telah dicapai di tahun 2000. Dalam presentasinya, Rizal menghimbau Bank Indonesia untuk lebih memperkuat fungsi pengawaasnnya serta lebih bekerja sama dengan BPPN dalam memacu penjualan asset dan restrukturisasi perusahaan.(Febrina S)

    Tabel Indikator Ekonomi 2000
     Indikator MakroKeterangan
    Peningkatan PDB4,80%- Lebih tinggi dari perkiraan semula, 4%
    - Ekspor4,24% 
    - Investasi2,18% 
    - Konsumsi swasta1,91% 
    Defisit Neraca Pembayaran3,2%- Lebih rendah dariperkiraan semula 4,8% dari PDB
    Pertumbuhan Ekspor Total31,4%- Angka untuk Jan-Sep 2000,dibanding angka pada periode yang sama tahun sebelumnya
    Pertumbuhan Ekspor Non Migas25,5%- Angka untuk Jan-Feb 2000 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya
    Surplus Transaksi BerjalanUS$ 7,7 milyar- 5% dari PDB
      - Meningkat 4,3% dari PDB tahun 1999
    Surplus Neraca PembayaranUS$ 5,0 milyar- 5% dari PDB
      - Meningkat 4,3% dari PDB tahun 1999
    Posisi Cadangan Devisa BrutoUS$ 29,3 milyar- Setara dengan 6,3 bulan nilai impor dan pembayaran cicilan hutang pemerintah
    AsetIndikator Perbankan + Rp 32 triliun- Per Agustus 2000
      - Menguat dari negatif (-) Rp 41 trilyun pada bulan sebelumnya
    Non Performing Loan27,92%- Per Agustus 2000
      - Menurun dari 32,84% pada bulan sebelumnya
    Net Interest Margin+ Rp 6.26trilyun- Per September 2000
      - Menguat dari negatif (-) Rp 12 trilyun pada bulan sebelumnya
    Aset Recovery BPPN+ Rp 20,82trilyun- Per November 2000
      - Melampaui target Rp 19,4 trilyun pada tahun 2000
    Pertumbuhan tingkat penggunaan Listrik oleh sector industriIndikator Sektor Riil 11,0 %- Meningkat antara Januari & Juli 2000.
      - 19% lebih tinggi dri periode yang sama tahun 1997
    Pertumbuhan Tingkat penjualan Eceran11,0%- Meningkat antara Januari dan Juni 2000
    Pertumbuhan Tingkat Penjualan Sepeda Motor85%- Meningkat antara Januari & Juli 2000
    Pertumbuhan Tingkat Penjualan Semen19%- Meningkat antara Januari & September 2000

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mereka yang Dianggap Layak Jadi Menteri, Tsamara Amany Disebut

    Nama-nama yang dianggap layak menjabat menteri kabinet Jokowi - Ma'ruf kuat beredar di internal partai pendukung pasangan itu. Tsamara Amany disebut.