Ini Profil 7 Perusahaan BUMN yang Akan Dibubarkan Menteri Eric Thohir

Reporter:
Editor:

Nurhadi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri BUMN Erick Thohir memastikan bakal membubarkan tujuh perusahaan pelat merah yang sudah lama tidak beroperasi.

    Menteri BUMN Erick Thohir memastikan bakal membubarkan tujuh perusahaan pelat merah yang sudah lama tidak beroperasi.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, memastikan akan membubarkan tujuh perusahaan BUMN yang telah lama tidak beroperasi. Penutupan sejumlah BUMN ini di antaranya mempertimbangkan nasib para pegawai perusahaan tersebut selama ini.

    “Sekarang yang perlu ditutup itu ada tujuh BUMN yang memang sudah lama tidak beroperasi. Ini kan kasihan juga nasib para pegawainya terkatung-katung,” kata Erick dalam keterangan resmi, Kamis, 23 September 2021.

    Ketujuh BUMN itu adalah PT Industri Gelas (Persero) atau Iglas, PT Merpati Nusantara Airlines (Persero), dan PT Kertas Leces (Persero), PT Industri Sandang Nusantara (Persero), PT Istaka Karya (Persero), PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero), dan PT Kertas Kraft Aceh (Persero).

    Berikut profil singkat tujuh perusahaan BUMN yang akan dibubarkan dalam waktu dekat ini yang dirangkum Tempo dari berbagai sumber:

    1. PT Merpati Nusantara Airlines (Persero)

    Mengutip dari centreforaviation.com, PT. Merpati Nusantara Airlines merupakan induk dari Merpati Nusantara Airlines, yang salah satu maskapai penerbangan nasional yang sebagian besar sahamnya dimiliki besar oleh pemerintah Indonesia. Maskapai ini didirikan pada 1962 dan berpusat di Jakarta. Merpati Nusantara Airlines mengoperasikan jadwal penerbangan domestik dan internasional ke daerah Timor Leste dari bandara Internasional Soekarno-Hatta.

    Pada 1 Februari 2014, Merpati menangguhkan seluruh penerbangan dikarenakan masalah keuangan akibat hutang. Untuk beroperasi kembali, Merpati membutuhkan 7,2 triliun rupiah. Menteri BUMN saat itu, Dahlan Iskan, secara resmi menyatakan bahwa situasi mengharuskan Merpati tidak beroperasi kembali. “Karena kerusakannya akan lebih besar apabila (perusahaan ini) diteruskan,” kata Dahlan.

    2. PT Industri Gelas (Persero)

    Dilansir dari laman resmi BUMN, PT Industri Gelas atau PT IGLAS (Persero) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan kemasan gelas, khususnya botol. Perusahaan ini didirikan pada 29 Oktober 1956 dan beroperasi pertama kali pada tahun 1959. Perusahaan ini mampu memproduksi berbagai jenis botol dengan total kapasitas 340 ton per hari atau 78.205 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan industri bir, minuman ringan, farmasi, makanan, dan kosmetika.

    Kendati PT Iglas saat ini kondisinya compang-camping, sebenarnya perusahaan BUMN ini pernah mengalami masa kejayaan dan merajai pangsa pasar kemasan berbasis botol kaca. Banyak perusahaan di tanah air yang memercayakan pembuatan kemasannya dikerjakan oleh perusahaan ini, termasuk Coca-Cola. Bahkan hampir separuh pabrik PT Iglas dikerahkan untuk memproduksi kemasan minuman asal Amerika Serikat tersebut. Namun Cocal-Cola perlahan mengurangi pemesanan botol pada PT Iglas lantaran perusahaan asal Amerika Serikat ini mulai beralih menggunakan kemasan botol plastik.

    3. PT Kertas Leces (Persero)

    PT Kertas Leces merupakan pabrik kertas tertua kedua di Indonesia setelah pabrik Kertas Padalarang. Perusahaan BUMN ini didirikan pada masa penjajahan Belanda pada 1939 dan mulai beroperasi 1940 dengan kapasitas produksi sebesar 10 ton per hari dan menghasilkan kertas print yang memproses bahan baku jerami dan dilakukan proses pensodaan. Setelah Indonesia merdeka dan manajemen ditangani oleh pemerintah, PT Kertas Leces mengalami perkembangan pembangunan fisik melalui empat tahapan yang dimulai pada 1960 dan berakhir 1986, yang menghasilkan pabrik kertas dan pulp terintegrasi.

    Namun, terhitung sejak Mei 2010, Kertas Leces berhenti beroperasi. Alasan dari pemberhentian operasi ini adalah karena Perusahaan Gas Negara (PGN) menghentikan pasokan gasnya lantaran Kertas Leces sudah menunggak utang sebesar Rp 41 miliar. Melansir dari laman BUMN, sejak 4 Juni 2012, Kertas Leces mulai beroperasi kembali. Hal ini disampaikan sendiri oleh Direktur Utama Kertas Leces, Budi Kusmarwoto. Sayangnya nasib PT Kertas Leces (Persero) berakhir tragis. Setelah cukup lama terlilit masalah keuangan, perusahaan pelat merah ini diputus pailit alias bangkrut oleh Pengadilan Niaga Surabaya pada 25 September 2018.

    4. PT Industri Sandang Nusantara (Persero)

    Melansir dari laman ptisn.co.id, PT. Industri Sandang Nusantara (Persero) merupakan perusahaan tekstil milik pemerintah Indonesia yang berkantor pusat di Bekasi, Jawa Barat, dan didirikan pada 1999. Perusahaan ini didirikan dalam swasembada kebutuhan pangan yang dicanangkan pada 1961. Perusahaan pelat merah ini memproduksi benang tenun, karung, dan karung plastik yang diproduksi oleh 7 baril pemintalan, 1 baril terpadu pemintalan dan pentenunan, serta satu pabrik karung plastik.

    5. PT Istaka Karya (Persero)

    PT Istaka Karya (Persero) merupakan perusahaan BUMN yang bergerak di bidang konstruksi. PT Istaka Karya (Persero) sebelumnya bernama PT Indonesian Consortium of Construction Industries atau disingkat ICCI dan merupakan suatu konsorsium yang beranggotakan 18 perusahaan konstruksi Indonesia. Istaka Karya mengalami masa-masa berat sebelum 2013. Berdasarkan laporan PT PPA, saat itu operasional perusahaan sempat berhenti. Perseroan juga dalam proses menghadapi Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di pengadilan.

    6. PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero)

    PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (Persero) atau lebih dikenal dengan singkatan PT PANN merupakan BUMN yang bergerak di bidang pembiayaan kapal. Perseroan pelat merah ini juga bergerak di bidang telekomunikasi dan navigasi maritim serta jasa pelayaran untuk usaha jasa sektor maritim. Seperti membuat sistem monitoring kapal, estimasi keberangkatan dan kedatangan kapal, informasi cuaca, kondisi cuaca, long-range identification, hingga tracking national data center.

    7. PT Kertas Kraft Aceh (Persero)

    PT Kertas Kraft Aceh (Persero) atau PT KKA merupakan sebuah perusahaan BUMN penghasil kertas kantong semen. Didirikan 1985 dengan nilai investasi 424,650,151 dollar Amerika Serikat berada di atas lahan seluas 219,2 hektare yang berlokasi desa Jamuan, Kecamatan Banda Baro, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Pabrik tersebut mulai beroperasi pada tahun 1989 dan berproduksi secara komersial pada tahun 1990. Namun pada akhir 2007 hingga saat ini, PT KKA resmi berhenti beroperasi dikarenakan berbagai alasan.

    HENDRIK KHOIRUL MUHID

    Baca juga: Deretan Masalah 7 BUMN yang Akan Dibubarkan Erick Thohir


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rachel Vennya Diduga Tak Menyelesaikan Masa Karantina Usai Pulang dari AS

    Rachel Vennya diduga tak menyelesaikan masa karantina yang semestinya ia lalui sepulang dari Amerika Serikat. Dugaan datang dari unggahan Instagram.