Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan Tetap 3,5 Persen

Wartawan tengah melihat secara daring pemaparan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Jakarta, Rabu, 29 April 2020. Bank Indonesia (BI) mengumumkan bid yang masuk untuk Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 44,4 triliun. Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 September 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) alias suku bunga acuan sebesar 3,5 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25 persen.

"Keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan di tengah perkiraan inflasi yang rendah dan juga upaya mendukung pemulihan ekonomi termasuk dari Covid-19," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual, Selasa, 21 September 2021.

Perry mengatakan BI pun terus erus mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan serta mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional lebih lanjut. Hal tersebut dilakukan melalui berbagai langkah antara lain menjaga stabilitas nilai tukar yang sesuai fundamental dan mekanisme pasar.

Selain itu, melanjutkan strategi operasi moneter untuk memperkuat efektivitas kebijakan moneter yang akomoditas. Memperkuat kebijakan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK) dengan pendalaman asesmen transmisi SBDK dan SB Kredit baru per jenis kredit berdasarkan Kelompok Bank.

Berikutnya, mendorong akselerasi perluasan merchant QRIS khususnya di pasar-pasar, pusat perbelanjaan, dan tempat ibadah, untuk meningkatkan integrasi ekosistem ekonomi dan keuangan digital sekaligus mendukung protokol kesehatan.

Selain itu, memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah terkait pelaksanaan uji coba digitalisasi bansos dan elektronifikasi transaksi pemerintah untuk mendorong realisasi belanja pemerintah.

Terakhir, memfasilitasi penyelenggaraan promosi perdagangan dan investasi serta melanjutkan sosialisasi penggunaan Local Currency Settlement (LCS) bekerja sama dengan instansi terkait.

BI sebelumnya memang telah diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate pada level 3,5 persen hingga akhir tahun ini. VP Economist PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede memperkirakan, BI baru akan mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan paling cepat di akhir 2022.

Hal ini pun sangat bergantung pada tren inflasi domestik. Dari sisi eksternal, Josua memperkirakan dampak dari kebijakan penarikan stimulus moneter atau tapering oleh the Fed, bank sentral di Amerika Serikat (AS) tidak akan sebesar tapering pada 2013.

Dia menjelaskan, tapering the Fed pada 2013 memberikan tekanan pada nilai tukar Rupiah dan pasar surat berharga negara (SBN), terutama pada saat setelah pengumuman tapering, serta periode akhir tapering, hingga periode kenaikan suku bunga pertama.

BACA: BI Umumkan Suku Bunga Acuan, Samuel Sekuritas: Patut Diperhatikan Pasar

 

CAESAR AKBAR | BISNIS






Buruh Agendakan Demo di Balai Kota, Tolak Kenaikan UMP 2023 Rp 4,9 Juta yang Ditetapkan Heru Budi

47 menit lalu

Buruh Agendakan Demo di Balai Kota, Tolak Kenaikan UMP 2023 Rp 4,9 Juta yang Ditetapkan Heru Budi

KSPI DKI Jakarta akan menggelar demonstrasi di Balai Kota, 2 Desember 2022. Buruh menolak kenaikan UMP Jakarta 2023 senilai Rp 4,9 juta.


Rupiah Pagi Ini Menguat Tinggalkan Posisi Rp 15.500

57 menit lalu

Rupiah Pagi Ini Menguat Tinggalkan Posisi Rp 15.500

Rupiah menguat 0,85 persen dari posisi kemarin yang ditutup di level Rp 15.563.


Bantuan KJP Plus Tahap II Mulai Dicairkan Kepada 803.121 Pelajar

1 jam lalu

Bantuan KJP Plus Tahap II Mulai Dicairkan Kepada 803.121 Pelajar

Pemprov DKI mulai mencairkan bansos KJP Plus tahap II kepada 803.121 pelajar. Ada untuk peserta PKBM.


Klaim Inflasi RI Masih Aman, Airlangga Bandingkan dengan India dan Amerika

1 jam lalu

Klaim Inflasi RI Masih Aman, Airlangga Bandingkan dengan India dan Amerika

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi RI pada November sebesar 5,42 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).


Rupiah Kembali Menguat di Level Rp 15.563 per Dolar AS Sore Ini

15 jam lalu

Rupiah Kembali Menguat di Level Rp 15.563 per Dolar AS Sore Ini

Rupiah menutup perdagangan Kamis, 1 Desember 2022 dengan penguatan 169 poin di level Rp 15.563 per dolar AS.


Ombudsman Temukan Partisipasi Tak Berjalan saat Penetapan Upah Minimum 2023

16 jam lalu

Ombudsman Temukan Partisipasi Tak Berjalan saat Penetapan Upah Minimum 2023

Ombudsman menemukan dugaan maladministrasi dalam proses pembentukan Permenaker Nomor 18 Tahun 2022 tentang Penetapan Upah Minimum Tahun 2023.


Utang RI Mendekati Rp 7.500 Triliun, Sri Mulyani: Masih Aman, Asalkan...

17 jam lalu

Utang RI Mendekati Rp 7.500 Triliun, Sri Mulyani: Masih Aman, Asalkan...

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai utang Indonesia masih tergolong aman.


Samuel Sekuritas: IHSG Turun Cukup Dalam, Saham BCA Melemah usai Aksi Profit Taking

18 jam lalu

Samuel Sekuritas: IHSG Turun Cukup Dalam, Saham BCA Melemah usai Aksi Profit Taking

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup di level 7.020,8, atau turun 0,85 persen dibandingkan angka penutupan kemarin, (7.081,3).


Inflasi November Turun jadi 5,42 Persen, BPS: Tertinggi di Tanjung Selor

20 jam lalu

Inflasi November Turun jadi 5,42 Persen, BPS: Tertinggi di Tanjung Selor

BPS mencatat inflasi per November 2022 sebesar 5,42 persen secara tahunan atau turun dari posisi Oktober 2022 sebesar 5,71 persen.


Hadapi Gejolak Ekonomi Global, Jokowi: APBN 2023 Fokus pada 6 Kebijakan

21 jam lalu

Hadapi Gejolak Ekonomi Global, Jokowi: APBN 2023 Fokus pada 6 Kebijakan

Presiden Jokowi membeberkan strategi Indonesia merespons tantangan ekonomi global yang bergejolak. APBN 2023 dipastikan berfokus pada 6 kebijakan.