RI Teken MoU Investasi Pabrik Baterai Mobil Listrik dengan Konsorsium Hyundai

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mobil listrik Hyundai Ioniq saat diuji coba di Jakarta, 17 Agustus 2020. Kapasitas penuh baterai Ioniq listrik ini bisa digunakan untuk berkendara sejauh 373 kilometer berdasarkan standar WLTP (Worldwide Harmonised Light Vehicle Test Procedure). Cukup untuk dipakai melakukan perjalanan Jakarta-Bandung-Jakarta dalam sekali pengisian daya. TEMPO/Wawan Priyanto

    Mobil listrik Hyundai Ioniq saat diuji coba di Jakarta, 17 Agustus 2020. Kapasitas penuh baterai Ioniq listrik ini bisa digunakan untuk berkendara sejauh 373 kilometer berdasarkan standar WLTP (Worldwide Harmonised Light Vehicle Test Procedure). Cukup untuk dipakai melakukan perjalanan Jakarta-Bandung-Jakarta dalam sekali pengisian daya. TEMPO/Wawan Priyanto

    TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Investasi Bahlil Lahadalia meneken nota kesepahaman atau MoU dengan Konsorsium Hyundai dan PT Industri Baterai Indonesia (IBI) untuk investasi pembangunan pabrik baterai mobil listrik di Indonesia. Konsorsium tersebut diwakili langsung CEO Hyundai Mobis Co. Ltd. Sung Hwan Cho dan CEO LG Energy Solution (LGES) Jonghyun Kim serta Direktur Utama IBI Toto Nugroho.

    “Agar dalam implementasinya, sesuai dengan undang-undang, (investor) berkolaborasi dengan pengusaha nasional dan UMKM. Ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah. Kami akan kawal dari awal sampai akhir investasi untuk baterai sel ini,” ujar Bahlil pada Kamis, 29 Juli 2021, seperti dikutip dalam keterangan tertulis.

    Konsorsium Hyundai terdiri atas Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution. Konsorsium akan bekerja sama IBI untuk membangun pabrik sel baterai kendaraan listrik dengan total nilai investasi sekitar US$1,1 miliar. Inevstasi ini diklaim menyerap tenaga kerja hingga seribu orang.

    Adapun kerja sama investasi ini merupakan tahap dari keseluruhan rencana proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai US$ 9,8 miliar. Bahlil mengatakan butuh proses dan negosiasi yang panjang sehingga dapat menguntungkan semua pihak sebelum investasi ini terealisasi.

    Ia mengingatkan agar dalam implementasi kerja samanya nanti, perusahaan menggandeng pengusaha lokal serta UMKM sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

    Konsorsium Hyundai akan membentuk joint venture (JV) dengan IBI selaku holding BUMN baterai. IBI merupakan gabungan dari empat BUMN, yaitu PLN, Pertamina, MIND ID, dan Antam.

    Kerja sama investasi tersebut ditargetkan segera memasuki fase peletakan batu pertama atau groundbreaking pada tahun ini. Fasilitas sel baterai rencananya akan memiliki kapasitas produksi sebesar 10 giga watt hour (GwH) yang akan menyuplai kendaraan listrik produksi Hyundai.

    Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Park Taesung, mengatakan kerja sama investasi mobil listrik dan baterai ini akan menjadi pendorong perekonomian yang berorientasi pada lingkungan, teknologi, dan ekspor.  “Saya sebagai Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia akan menggerakkan segala dukungan agar kerja sama ini menjadi salah satu kerja sama yang sukses dan terbaik antara Korea dan Indonesia,” ujar dia.

    Direktur Utama IBI Toto Nugroho mengatakan Indonesia memiliki potensi menjadi pemain global industri baterai. Musababnya, Indonesia memiliki 24 persen cadangan nikel di dunia.

    “Kami akan memproduksi baterai secara kompetitif untuk memenuhi kebutuhan Indonesia dan juga untuk ekspor. Terima kasih atas dukungan yang sangat besar dari Kementerian Investasi, Kementerian BUMN, dan Ambassador kedua negara,” ucap Toto.

    Baca Juga: Hyundai dan LG Investasi Rp 15,9 Triliun untuk Bangun Pabrik Baterai di RI 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.