IHSG Sesi Pertama Menguat Tipis, Ini Analisis Samuel Sekuritas

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Saham atau Ilustrasi IHSG. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

    Ilustrasi Saham atau Ilustrasi IHSG. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabung atau IHSG menutup sesi pertama perdagangan hari ini, 26 Juli 2021, di posisi 6.110 atau 0,14 persen lebih tinggi dari angka penutupan pekan lalu yang sebesar 6.101.

    "Di pasar reguler tercatat jual bersih asing sebesar Rp 123,9 miliar, sementara di pasar negosiasi tercatat beli bersih asing sebesar Rp 88,8 miliar," kata Analis Samuel Sekuritas M Alfatih dalam keterangan tertulis, Senin, 26 Juli 2021.

    Sebanyak 261 saham menguat, 233 melemah, dan 158 stagnan pada sesi pertama perdagangan hari ini, dengan nilai transaksi mencapai Rp 6,3 triliun.

    Dia mengatakan saham Bank MNC (BABP) masih menjadi saham yang paling banyak dibeli investor asing, terlihat dari nilai net buy asing yang mencapai Rp 30,1 miliar, disusul AGRO (Rp 29,6 miliar) dan TLKM(Rp 16 miliar).

    Sementara itu, saham Digital Mediatama Maxima (DMMX) menjadi saham yang paling banyak dijual investor asing di pasar reguler pada sesi pertama hari ini, dengan nilai net sell mencapai Rp 45,2 miliar, disusul oleh BBCA(Rp 32,3 miliar) dan TOWR(Rp 27,2 miliar).

    Di sektor perbankan, saham Bank Ganesha (BGTG), menunjukkan pergerakan yang paling menonjol di sesi pertama hari ini, menutup sesi dengan kenaikan 20,3 persen ke level Rp 260 per saham. BGTG sendiri memang mendapat kabar bagus pekan lalu setelah salah satu pemegang sahamnya, PT Equity Development Investment (GSMF) berencana menggelar rights issue untuk meraup dana yang selanjutnya akan digunakan untuk menambah investasinya di BGTG.

    Sekadar info, GSMF sendiri menjadi saham yang naik paling tinggi di sesi pertama hari ini (+34,2 persen). Tidak hanya BGTG, sejumlah bank mini lainnya juga menutup sesi pertama hari ini di zona hijau, diantaranya INPC (+7 persen), AGRO (+5,4 persen), BBHI (+5,3 persen) dan BABP (+5,2 persen).

    Sejumlah saham sektor telekomunikasi juga bergerak naik di sesi pertama hari ini, speerti TOWR (+14,2 persen), JAST (+7,5 persen), dan CENT (+7,3 persen).

    "Kenaikan ketiga saham ini turut mendorong indeks sektoral infrastruktur (IDXINFRA) menjadi salah satu indeks sektoral yang menguat paling kencang di sesi pertama hari ini (+1,4 persen), hanya kalah dari indeks sektor transportasi (IDXTRANS) (+1,8 persen)," ujarnya.

    Alfatih mengatakan gerakan yang cukup menarik ditunjukkan oleh saham emiten energi PT Surya Eka Perkasa (ESSA). Sempat turun ke level Rp 424 per saham pada awal sesi perdagangan, saham ini perlahan kembali menguat sebelum menutup sesi di level Rp 458 per saham (+5,5 persen).

    Untuk diketahui, emiten ini memang mencatatkan kinerja yang cukup cemerlang di awal tahun ini, didorong oleh meningkatnya harga LPG dan ammonia yang merupakan produk ESSA. Manajemen ESSA juga menyebutkan bahwa tren positif kedua komoditas ini masih berlanjut hingga kuartal kedua tahun ini.

    Adapun saham yang mengisi lima besar top gainer atau menguat paling tinggi di sesi pertama ini, yaitu GSMF (+34,2 persen ke Rp 204 per saham), KOTA (+28,1 persen ke Rp 155 per saham), SAMF (+24,2 persen ke Rp 1.025 per saham), UANG (+22,5 persen ke Rp 735 per saham), dan BGTG (+20,3 persen ke Rp 260 per saham).

    Sedangkan lima besar saham yang melemah paling dalam atau top loser sesi pertama hari ini, yaitu HDIT (-6,9 persen ke Rp 605 per saham), PTDU (-6,9 persen ke Rp 1.345 per saham), BCIC (-6,7 persen ke Rp 760 per saham), GLOB (-6,7 persen ke Rp 250 per saham), dan MAYA (-6,7 persen ke Rp 1.765 per saham)

    HENDARTYO HANGGI

    Disclaimer: Berita ini merupakan hasil kerja sama dengan PT Samuel Sekuritas Indonesia. Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.