Pengusaha Angkutan di Masa Pandemi: Penumpang Sedikit, Digerogoti Travel Gelap

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Personel kepolisian terpaksa menurunkan penumpang travel gelap saat terjaring penyekatan pemudik di pintu keluar tol Pejagan-Pemalang, Adiwerna, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Kamis, 6 Mei 2021. Polres Tegal melakukan tes usap antigen dan menurunkan puluhan penumpang travel gelap akibat kendaraannya ditahan saat ingin mudik ke Pemalang. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

    Personel kepolisian terpaksa menurunkan penumpang travel gelap saat terjaring penyekatan pemudik di pintu keluar tol Pejagan-Pemalang, Adiwerna, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Kamis, 6 Mei 2021. Polres Tegal melakukan tes usap antigen dan menurunkan puluhan penumpang travel gelap akibat kendaraannya ditahan saat ingin mudik ke Pemalang. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Utama PT Sumber Alam Ekspress Anthony Steven Hambali menceritakan kondisi pengusaha angkutan bus selama pandemi Covid-19. Anthony mengatakan 54 persen penumpang di jalur angkutan antar-kota antar-provinsi rute Jawa dan Bali digerogoti oleh travel ilegal.

    “Ini menjadi sorotan karena adanya pandemi. Pas masa Lebaran atau akhir tahun itu banyak angkutan ilegal. Kalau penumpang banyak tidak masalah. Yang jadi masalahnya sekarang penumpang  sedikit dan diambil oleh angkutan tidak berizin sehingga tidak baik untuk iklim usaha,” ujar Anthony dalam webinar, Jumat, 23 Juli 2021.

    Adapun travel ilegal mengambil pangsa pasar bus resmi karena menawarkan layanan angkutan tanpa syarat-syarat kesehatan, seperti tes Covid-19, kepada panumpang selama pandemi Covid-19. Travel gelap umumnya beroperasi di jalan alternatif atau jalan tikus untuk menghindari razia petugas.

    Anthony berujar bila pangsa pasar penumpang tidak beralih ke travel gelap, operator bus resmi dapat meningkatkan pendapatannya untuk mengurangi beban operasional dan membiayai karyawan. Dengan demikian, kinerja angkutan darat antar-kota tidak terlampau merugi.

    Di tengah menurunnya jumlah penumpang karena pandemi, Anthony menyayangkan angkutan gelap justru semakin menjamur. Ia mengungkapkan meruaknya angkutan gelap akan menimbulkan ketidakadilan dari sisi regulasi.

    Selain itu, angkutan gelap akan mendorong persaingan harga tidak sehat, pergeseran moda transportasi di masyarakat, serta mendorong munculnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor transportasi. Di sisi lain, angkutan gelap akan meningkatkan risiko keselamatan karena tidak memiliki jaminan asuransi untuk penumpangnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.