IHSG Anjlok ke Level 6.094, Samuel Sekuritas Sebut Ada Sejumlah Sentimen Negatif

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Layar pergerakan Index Harga Saham Gabungan di Jakarta, Jumat, 22 Januari 2021. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di zona merah dengan pelemahan 1,66 persen atau 106,76 poin ke level 6.307,13. Tempo/Tony Hartawan

    Layar pergerakan Index Harga Saham Gabungan di Jakarta, Jumat, 22 Januari 2021. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di zona merah dengan pelemahan 1,66 persen atau 106,76 poin ke level 6.307,13. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Setelah melesat tinggi di sesi perdagangan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG turun cukup dalam di sesi pertama perdagangan hari ini. IHSG menutup sesi di level 6.094 atau melemah 0,71 persen dari penutupan kemarin.

    "Memang ada beberapa sentimen negatif yang mewarnai perdagangan hari ini," seperti dikutip dari analisis harian Tim Riset PT Samuel Sekuritas Indonesia, Jumat, 23 Juli 2021.

    Selain kembali naiknya kasus Covid-19 harian Indonesia dan angka kematian harian yang memecahkan rekor kemarin, Bank Indonesia (BI) juga menyebutkan dalam paparannya kemarin akan memangkas proyeksinya untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini ke angka 3,5-4,3 persen.

    Padahal sebelumnya BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi 4,1-5,1 persen. Proyeksi itu seiring dengan kemunculan varian Delta Covid-19 dan pemberlakuan PPKM darurat.

    Bursa global sendiri cenderung bergerak bervariasi, meski pasar AS masih menguat (meski lebih kecil dari hari sebelumnya), pasar Asia justru bergerak mixed (Hang Seng turun 0,99 persen, Kospi naik 0,09 persen, Shanghai turun 0,65 persen), seiring dengan melonjaknya kembali kasus Covid-19 di Asia yang mendorong sejumlah negara melakukan pengetatan, seperti Singapura dan Thailand.

    Sebanyak 184 saham menguat, 275 melemah, dan 174 stagnan pada sesi pertama perdagangan hari ini, dengan nilai transaksi mencapai Rp 6,3 triliun.
    Di pasar reguler tercatat nilai beli bersih asing sebesar Rp 111,8 miliar, sementara di pasar negosiasi tercatat jual bersih asing sebesar Rp 6,4 miliar.

    Saham bank milik Hary Tanoesoedibjo, Bank MNC (BABP) kembali menjadi saham yang paling banyak dibeli investor asing di sesi pertama hari ini, dengan nilai net buy asing mencapai Rp 79,6 miliar, disusul ANTM (Rp 71,8 miliar) dan DMMX (Rp 33,9 miliar).

    Sementara itu, saham Bank BCA(BBCA) menjadi saham yang paling banyak dijual investor asing di pasar reguler pada sesi pertama hari ini, dengan nilai net sell mencapai Rp 101,9 miliar, disusul oleh UNVR (Rp 61,2 miliar) dan PTBA (Rp 18,5 miliar).

    Nyaris semua saham 10 besar big cap melemah di sesi pertama perdagangan hari ini, dengan pelemahan terbesar ditunjukkan oleh saham Unilever Indonesia (UNVR) yang menutup sesi di level Rp 4.810 per saham (turun 4,2 persen). UNVR sendiri baru saja merilis laporan kinerjanya untuk paruh pertama 2021, yang menunjukkan penurunan pendapatan (turun 7,33 persen yoy) dan laba bersih (turun 15,85 persen yoy).

    Nasib sebaliknya ditunjukkan oleh saham produsen laptop dalam negeri, Zyrexindo Mandiri Buana (ZYRX) yang melesat ke titik ARAnya di sesi pertama hari ini di Rp 730 per saham (naik 24,7 persen). ZYRX sendiri memang mendapat sentimen positif dari berita bahwa pemerintah akan menganggarkan Rp 17 triliun  untuk pengadaan produk TIK dari produsen lokal hingga 2024, yang akan digunakan untuk digitalisasi sekolah.

    Gerakan positif juga ditunjukkan duo saham Grup Mahaka milik Erick Thohir, ABBA (naik 16,5 persen) dan anak usahanya MARI (naik 3,52 persen). Sekadar pengingat, ABBA belum lama ini mengumumkan rencananya untuk menggelar rights issue dan melepas sebanyak-banyaknya 1,2 miliar saham dengan nilai nominal Rp100 per saham.

    Adapun saham yang mengisi lima besar top gainer atau menguat paling tinggi di sesi pertama ini, yaitu SAFE (naik 31,9 persen ke Rp 248 per saham), JAWA (naik 26, persen ke Rp 145 per saham), ZYRX (naik 24,7 persen ke Rp 730 per saham), ATIC (naik 20,5 persen ke Rp 1.145 per saham), dan MASA (naik 20,2 persen ke Rp 2.550 per saham)

    Sedangkan lima besar saham yang melemah paling dalam atau top loser sesi pertama hari ini, yaitu HOMI (turun 6,8 persen ke Rp 1.825 per saham), BCIC (turun 6,8 persen ke Rp 815 per saham), FIRE (turun 6,8 persen ke Rp 545 per saham), TIRA (turun 6,7 persen ke Rp 494 per saham), dan PTDU (turun 6,7 persen ke Rp 1.445 per saham).

    IHSG selama tiga hari terakhir masih bergerak fluktuatif atau volatile. Tim Riset PT Samuel Sekuritas Indonesia sebelumnya memperkirakan IHSG masuk di level kritis dengan kisaran 6.130-6.150.

    Disclaimer: Berita ini merupakan hasil kerja sama dengan PT Samuel Sekuritas Indonesia. Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.

    Baca: IHSG Masih Fluktuatif , Samuel Sekuritas Sebut 3 Saham Ini Berpeluang Menguat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...