Digitalisasi Perbankan, BRI Hingga Maret Lalu Sudah Tutup 341 Kantor Cabang

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo BRI. wikipedia.org

    Logo BRI. wikipedia.org

    TEMPO.CO, JakartaPT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI per Maret 2021 telah menutup 341 kantor cabangnya. Penutupan kantor cabang itu dilakukan secara alami sebagai imbas digitalisasi perbankan.

    Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto juga menyatakan penutupan kantor cabang juga merespons perubahan perilaku masyarakat. Akhirnya, keberadaan dan fungsi kantor cabang bank konvensional berkurang seiring dengan berjalannya waktu. 

    "Pandemi yang terjadi menjadi akselerator digitalisasi tersebut, sehingga mempercepat proses yang ada," ujar Aestika ketika dihubungi, Rabu, 21 Juli 2021.

    Aestika lalu merinci, hingga akhir Maret 2021, tercatat jumlah outlet konvensional BRI sebanyak 9.241 kantor. Angka ini berkuran 341 dibandingkan dengan jumlah outlet konvensional BRI pada Maret 2020 yaitu sebanyak 9.582 kantor.

    ADVERTISEMENT

    Di masa mendatang, BRI akan terus fokus dalam menjalankan transformasi digital, dengan fokus pada area bisnis, transaksi, ekosistem dan internal process. "Pengembangan jaringan BRI akan difokuskan pada Agen BRILink, yang pada akhir Juni 2021 tercatat sebanyak 465.000 orang dengan transaksi mencapai Rp 414 triliun," ujar Aestika.

    Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2021 menyebutkan jumlah kantor cabang perbankan sebayak 29.780 unit. Angka ini berkurang 1.232 unit dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

    Deputi Direktur Basel dan Perbankan Internasional OJK, Tony, sebelumnya menyebutkan jumlah kantor cabang bank terus menurun belakangan ini sebagai imbas dari transformasi digital yang dilakukan.

    Sebagai gambaran, pada tahun 2015 terdapat 32.963 kantor cabang bank dan per Maret 2021 berkurang menjadi 29.889 kantor cabang. Dengan begitu, selama enam tahun terakhir, bank mengurangi 3.074 kantor cabangnya di Tanah Air.

    Namun, menurut Tony, fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan hampir di seluruh negara di dunia. Di berbagai belahan dunia sudah muncul konsep digital bank, neo bank, dan challenger bank. 

    Tony menjelaskan, pada intinya, bank-bank memanfaatkan digital teknologi untuk memberikan layanan kepada masyarakat. Di Indonesia, ada ada beberapa bank yang sudah mengklaim bahkan mentransformasikan diri menjadi bank digital.

    "Bahkan ada juga yang menyatakan diri bahwa mereka sudah akan menjadi bank fully digital," ucap Tony dalam webinar, Kamis, 10 Juni 2021.

    BISNIS

    Baca: BNI Jelaskan ke BEI soal Tutup 96 Kantor Cabang: Tidak Ada PHK Karyawan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.