Bitcoin Kembali Naik ke Rp 465 juta Usai Jeblok, Analis: Belum Ada Panic Selling

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Bursa Kripto. shutterstock.com

    Ilustrasi Bursa Kripto. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga Bitcoin menanjak kembali ke atas level US$ 30.000-an setelah sebelumnya terjun bebas. Pada hari ini, Kamis, 22 Juli 2021, situs coingecko.com mencatat harga aset kripto tersebut berada di US$ 32.057 atau sekitar Rp 465 jutaan (asumsi kurs Rp 14.516 per dolar AS).

    Harga Bitcoin itu naik 7,3 persen dalam 24 jam terakhir, tapi masih terpantau menurun selama satu dan dua pekan terakhir. Bila dibandingkan dengan rekor tertingginya pada pertengahan April lalu yang mencapai US$ 64.805 atau berkisar Rp 940,67 jutaan, harga Bitcoin saat ini telah jeblok hingga 50,5 persen.

    Aset kripto lainnya seperti Ethereum dan Dogecoin juga menguat. Sementara itu, Indeks Crypto Galaxy Bloomberg juga berada di zona hijau. “Ketakutan di pasar adalah jika Bitcoin menembus di bawah angka US$ 30.000, harga akan bergerak lebih rendah secara drastis,” kata kepala analis pasar di Ava Trade Ltd Naeem Aslam, seperti dikutip Bloomberg, Rabu, 21 Juli 2021.

    Menurut Aslam, pelaku pasar kini menilai harga Bitcoin relatif stabil. "Kami belum melihat adanya panic selling,” ucapnya.

    Adapun Bitcoin dan cryptocurrency lainnya telah jatuh sejak pertengahan Mei dan menghapus kapitalisasi pasar aset kripto secara keseluruhan hingga US$ 1,3 triliun.

    Khusus penurunan Bitcoin di antaranya karena menghadapi sejumlah sentimen, termasuk peningkatan pengawasan peraturan di Cina, Eropa, dan AS dan kekhawatiran atas tingginya konsumsi energi untuk aktivitas penambangan Bitcoin.

    Investor juga umumnya menjadi lebih berhati-hati terhadap aset spekulatif ini. Di beberapa pekan mendatang, Aslam memperkirakan Bitcoin masih akan menguji level support US$ 25.000. 

    Secara umum, penguatan harga Bitcoin masih di bawah lonjakan indeks S&P 500 yang naik 15 persen pada tahun 2021. Para pendukung cryptocurrency berpendapat mata uang virtual menawarkan lindung nilai dari inflasi dan akan memenangkan penerimaan institusional yang lebih luas.

    Narasi tersebut selalu kontroversial dan sekarang semakin dipertanyakan, meskipun penggemar Bitcoin terus memprediksi penguatan jangka panjang yang besar. Kekhawatiran peraturan dan lingkungan kemungkinan akan membuat Bitcoin tetap tertekan, tapi perbaikan di kedua sisi akan terjadi sebelum akhir tahun,” analis pasar senior untuk AS di Oanda, Edward Moya.

    BISNIS

    Baca: Harga Bitcoin Ambrol ke Rp 433 Jutaan, Turun Separuh Lebih dari Rekor Tertinggi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.