Garuda Indonesia Masuk Daftar Saham dalam Pantauan Khusus BEI, Sebabnya?

Pesawat Garuda Indonesia Airbus A330-900neo bercorak khusus yang menampilkan visual masker pada bagian moncong pesawat dipamerkan di akun media sosial maskapai plat merah tersebut. Instagram

TEMPO.COJakarta - Bursa Efek Indonesia atau BEI mengumumkan 20 saham yang masuk ke dalam daftar efek bersifat ekuitas dalam pemantauan khusus. Dari daftar tersebut, 17 emiten adalah nama-nama tetap, sementara tiga lainnya adalah emiten yang baru masuk pemantauan khusus.

Garuda Indonesia (Persero) Tbk. atau GIAA menjadi salah satu emiten yang baru masuk ke dalam saham dalam pemantauan khusus bersama Bank Ina Perdana Tbk alias BINA, dan Tridomain Performance Materials Tbk alias TPDM.

Berdasarkan pengumuman tersebut, Garuda Indonesia masuk ke dalam daftar pemantauan khusus lantaran memenuhi dua kriteria, yaitu Laporan Keuangan terakhir mendapat opini disclaimer dan dalam kondisi dimohonkan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang atau PKPU alias dimohonkan pailit.

TPDM juga masuk ke dalam pemantauan khusus lantaran tengah dimohonkan pailit. Sedangkan BINA masuk pemantauan khusus lantaran dikenakan penghentian sementara perdagangan efek selama lebih dari satu hari bursa yang disebabkan oleh aktivitas perdagangan.

"Dengan ini Bursa menetapkan Daftar Efek Bersifat Ekuitas Dalam Pemantauan Khusus berlaku efektif pada tanggal 21 Juli 2021," dinukil dari pengumuman BEI yang diunggah di Keterbukaan Informasi, Senin, 19 Juli 2021.

Kebijakan tersebut merujuk kepada Peraturan Nomor II-S tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas Dalam Pemantauan Khusus dan dalam rangka memberikan perlindungan kepada Investor terkait informasi fundamental dan/atau likuiditas Perusahaan Tercatat.

Secara umum BEI telah menetapkan kriteria efek bersifat ekuitas dalam pemantauan khusus. Kesebelas kriteria itu adalah:

1. Harga rata-rata saham selama enam bulan terakhir di pasar reguler kurang dari Rp 51.

2. Laporan keuangan audit terakhir mendapatkan opini tidak menyatakan pendapat (disclaimer).

3. Emiten tidak membukukan pendapatan atau tidak terlihat perubahan pendapatan pada laporan keuangan auditan dan/atau laporan keuangan interim terakhir, dibandingkan dengan laporan keuangan yang disampaikan sebelumnya.

4. Emiten yang bergerak dalam bidang usaha pertambangan mineral dan batu bara yang telah melaksanakan tahapan operasi produksi namun belum sampai tahapan penjualan. Atau emiten tersebut memulai tahapan operasi produksi pada akhir tahun buku ke-4 sejak tercatat di Bursa, belum memperoleh pendapatan dari kegiatan usaha utama.

Selain itu, kriteria ini juga berlaku untuk emiten yang merupakan induk perusahaan yang memiliki perusahaan terkendali yang bergerak di bidang mineral dan batu bara yang telah melaksanakan tahapan operasi produksi namun belum sampai tahapan penjualan.

5. Emiten memiliki ekuitas negatif pada laporan keuangan terakhir.

6. Emiten tak memenuhi persyaratan untuk dapat tetap tercatat di Bursa sebagaimana diatur dalam Peraturan Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan Oleh Perusahaan Tercatat, untuk Perusahaan tercatat yang sahamnya tercatat di Papan Utama atau di Papan Pengembangan.

Kriteria ini juga berlaku untuk emiten yang tidak memenuhi persyaratan untuk dapat tetap tercatat di Bursa sebagaimana diatur dalam Peraturan Nomor I-V tentang Ketentuan Khusus Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham di Papan Akselerasi.

7. Emiten memiliki likuiditas saham yang rendah dengan kriteria nilai transaksi rata-rata harian saham kurang dari Rp 5 juta dan volume transaksi rata-rata harian saham kurang dari 10.000 saham selama 6 bulan terakhir di pasar reguler.

8. Emiten dalam kondisi dimohonkan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) atau dimohonkan pailit.

9. Emiten memiliki anak perusahaan yang kontribusi pendapatannya material bagi perusahaan dan anak perusahaan tersebut dalam kondisi dimohonkan PKPU atau dimohonkan pailit.

10. Emiten dikenakan penghentian sementara perdagangan sahamnya selama lebih dari 1 hari bursa yang disebabkan oleh aktivitas perdagangan.

11. Kondisi lain yang ditetapkan oleh bursa setelah memperoleh persetujuan atau perintah dari Otoritas Jasa Keuangan atau OJK.

Kepala Divisi Layanan dan Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, Saptono Adi Junarso menyatakan, pihaknya sebelumnya sudah merilis 17 emiten yang masuk dalam Daftar Efek Bersifat Ekuitas yang Diperdagangkan dalam Pemantauan Khusus (Watchlist). Ketujuh belas emiten itu masuk dalam daftar lantaran memenuhi beberapa persyaratan yang ada.

CAESAR AKBAR | BISNIS

Baca: Faisal Basri Sebut Jokowi Selamatkan Rektor Ari Kuncoro Ketimbang UI






Investasi Saham atau Obligasi? Di Tengah Ancaman Rupiah Terus Melemah dan BI Rate Naik

4 jam lalu

Investasi Saham atau Obligasi? Di Tengah Ancaman Rupiah Terus Melemah dan BI Rate Naik

Kinerja instrumen investasi saham diperkirakan para pakar bakal lebih baik dibandingkan pasar obligasi pada sisa kuartal IV/2022.


IHSG Diperkirakan Menguat ke level 7.100, Samuel Sekuritas Soroti Saham ADRO dan BBCA

6 jam lalu

IHSG Diperkirakan Menguat ke level 7.100, Samuel Sekuritas Soroti Saham ADRO dan BBCA

Analis dari PT Samuel Sekuritas Indonesia M Alfatih memperkirakan kenaikan IHSG di atas 7.100 akan mengakhiri channel turun dalam 3 minggu terakhir.


Bukan Sekadar Lagu, 5 Fakta Menarik Bengawan Solo

1 hari lalu

Bukan Sekadar Lagu, 5 Fakta Menarik Bengawan Solo

Bengawan Solo, sungai terpanjang di Indonesia. Ini 5 fakta menarik tentang sungai ini, termasuk pesawat Garuda Pernah water landing dan pencemaran.


Geely Beli Saham Aston Martin yang Lagi Merugi

1 hari lalu

Geely Beli Saham Aston Martin yang Lagi Merugi

Geely sudah lama tertarik dengan Aston Martin. Akuisisi ini mengakhiri beberapa tahun upaya membeli saham perusahaan Inggris itu.


Profil Handojo Santosa, Direktur Utama Japfa yang Dimakamkan Hari Ini 1 Oktober 2022

1 hari lalu

Profil Handojo Santosa, Direktur Utama Japfa yang Dimakamkan Hari Ini 1 Oktober 2022

Direktur Utama Japfa Handojo Santosa meninggal, dan hari ini dimakamkan di Sentosa Memorial Garden. Ini profil bos Japfa.


Kaesang Pangarep Cerita Bertemu Lo Kheng Hong, Siapakah Pak Lo Ini?

2 hari lalu

Kaesang Pangarep Cerita Bertemu Lo Kheng Hong, Siapakah Pak Lo Ini?

Kaesang Pangarep menceritakan pernah bertemu Lo Kheng Hong pada 2019. Siapakah sosok yang akrab disapa Pak Lo ini?


Pekan Ini , Bank Indonesia Catat Modal Asing Keluar Rp 8,48 T

2 hari lalu

Pekan Ini , Bank Indonesia Catat Modal Asing Keluar Rp 8,48 T

Bank Indonesia (BI) mencatat terdapat aliran modal asing keluar bersih senilai Rp8,48 triliun selama periode 26-29 September 2022.


Ketidakpastian Ekonomi Dunia Bayangi Laju IHSG, Dua Sektor Berikut Bisa Dipertimbangkan

2 hari lalu

Ketidakpastian Ekonomi Dunia Bayangi Laju IHSG, Dua Sektor Berikut Bisa Dipertimbangkan

IHSG masih berpeluang mencetak rekor all time high baru pada kuartal IV/2022 meski masih dibayangi ketidakpastian global.


Wamen BUMN Jelaskan Cerita Garuda Indonesia Cetak Laba Rp 57 T

3 hari lalu

Wamen BUMN Jelaskan Cerita Garuda Indonesia Cetak Laba Rp 57 T

Wamen BUMN membahas keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) menjadi untung.


IHSG Ditutup Melemah, Indeks Sektor Teknologi dan Transportasi Terjun Bebas

3 hari lalu

IHSG Ditutup Melemah, Indeks Sektor Teknologi dan Transportasi Terjun Bebas

IHSG menutup sesi di level 7.036 atau -0,57 persen lebih rendah daripada angka penutupan Rabu, 28 September kemarin di angka 7.077,0.