Peternak Sebut Sapi Impor Bukan Saingan Sapi Kurban Lokal, Ini Sebabnya

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana aktivitas penjualan hewan kurban di Pasar Kambing, Tanah Abang, Jakarta, Rabu, 14 Juli 2021. PPKM Darurat juga menyebabkan pengiriman hewan kurban dari luar kota terhambat sehingga stok kambing dan sapi terbatas. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Suasana aktivitas penjualan hewan kurban di Pasar Kambing, Tanah Abang, Jakarta, Rabu, 14 Juli 2021. PPKM Darurat juga menyebabkan pengiriman hewan kurban dari luar kota terhambat sehingga stok kambing dan sapi terbatas. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Nanang Purus Subendro mengatakan sapi impor bukanlah pesaing dari sapi kurban. Ia pun menjelaskan sejumlah alasannya.

    "Syarat sapi untuk dikurbankan harus tidak cacat. Sapi impor biasanya telinganya berlubang-lubang, maupun sudah dikebiri, jadi tidak sah untuk digunakan sebagai hewan kurban," kata Nanang kepada Tempo, Sabtu, 17 Juli 2021.

    Selain itu, kata Nanang, sapi impor biasanya bersifat liar dan tidak ditali. Sehingga, penanganan sapi dari luar negeri relatif lebih sulit dan membuat pembeli enggan membelinya.

    Sapi impor juga, tutur Nanang, tidak bisa dipotong di sembarang tempat seperti halaman masjid, lantaran terikat ketentuan animal welfare. Sehingga, sapi impor hanya bisa dipotong di rumah pemotongan hewan yang sudah diaudit.

    Di samping itu, Nanang mengatakan bahwa sapi yang banyak masuk dari luar negeri pada bulan Mei dan Juni 2021 biasanya baru akan dilepas untuk dipotong setelah dipelihara tiga sampai empat bulan di kandang.

    Nanang pun mencatat bahwa impor sapi hidup dari Australia sampai dengan Juli 2021 justru mengalami penurunan. Karena itu, ia menegaskan bahwa sapi impor bukanlah pesaing dari sapi kurban lokal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.