Rupiah Tertekan di Level 14.497 per USD, Analis: Terpengaruh Sentimen The Fed

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menjual mata uang dolar di money changer kawasan Kwitang. Nilai tukar dolar Amerika Serikat, mencapai level Rp14.060 per Dolar AS.  Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    Warga menjual mata uang dolar di money changer kawasan Kwitang. Nilai tukar dolar Amerika Serikat, mencapai level Rp14.060 per Dolar AS. Jakarta, 25 Agustus 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Data Bloomberg mencatat nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 14.497 per dolar AS pada perdagangan pada Jumat sore ini, 16 Juli 2021. Kurs rupiah tersebut jeblok 15 poin atau 0,1 persen dari posisi penutupan kemarin di level Rp 14.482 per dolar AS.

    Sepanjang perdagangan hari ini, kurs rupiah bergerak di kisaran Rp 14.497,5 - Rp 14.537 per dolar AS. Tak hanya rupiah, tapi hampir seluruh mata uang Asia lainnya juga melemah, kecuali won Korea Selatan yang menguat 0,14 persen. Sementara sisanya ada di zona merah bersama rupiah.

    Dolar Taiwan terpantau melemah 0,28 persen dan diikuti baht Thailand yang turun 0,24 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,18 persen, yuan China melemah 0,15 persen, dan India anjlok 0,12 persen. Sementara itu, di saat yang sama indeks dolar AS tengah menguat 0,06 poin atau 0,07 persen ke level 92.68.

    Ketika dihubungi, Macroeconomic Analyst Bank Danamon Irman Faiz menjelaskan sentimen utama pelemahan rupiah adalah dari faktor eksternal. Yang dimaksud faktor eksternal di sini adalah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang akan terjadi lebih cepat dan naik dua kali di 2023.

    “Apalagi realisasi inflasi US terakhir juga berada di atas konsensus pasar dan mendukung ekspektasi pasar terhadap pemulihan US yang lebih cepat,” kata Irman, Jumat, 16 Juli 2021.

    Adapun dari sisi internal, kurs rupiah juga tertekan oleh kenaikan kasus harian Covid-19 di Tanah Air yang membuat proyeksi pertumbuhan tahun ini bisa lebih rendah dari prakiraan sebelumnya sehingga membuat rupiah sulit bangkit. Ia memperkirakan tekanan rupiah masih akan terjadi pada pekan depan ada seiring kenaikan kasus aktif.

    Selain itu, kata Irman, pasar akan melihat sikap dari Bank Indonesia terkait proyeksi pertumbuhan yang baru dari rapat Dewan Gubernur BI pekan depan. “All in all, kami melihat pergerakan rupiah rata-rata di satu bulan ini sekitar Rp 14.487 - Rp 14.550 karena masih ada topangan dari likuiditas dolar AS yang melimpah akibat surplus neraca dagang kita di 1 semester kemarin yang 2 kali lipat lebih besar dari tahun lalu,” tuturnya.

    BISNIS

    Baca: Ingin Investasi Aman Selama PPKM? Simak Bunga Deposito di BCA dan 3 Bank BUMN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.