Erick Thohir Resmikan Subholding Sarana Infrastruktur

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) didampingi Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kemenkes Agusdini (kiri) dan Kepala Kantor Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta Finari Manan (kanan) menyampaikan keterangan pers saat menyambut kedatangan vaksin COVID-19 di Teminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin, 31 Mei 2021. ANTARA/Dhemas Reviyanto

    Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) didampingi Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kemenkes Agusdini (kiri) dan Kepala Kantor Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta Finari Manan (kanan) menyampaikan keterangan pers saat menyambut kedatangan vaksin COVID-19 di Teminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin, 31 Mei 2021. ANTARA/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meresmikan subholding sarana infrastruktur. Subholding ini merupakan integrasi dari beberapa anak perusahaan Krakatau Steel.

    “Saya mendukung pembentukan subholding sarana infrastruktur sebagai bagian transformasi Krakatau Steel untuk meningkatkan nilai dan mengoptimalkan kinerja perusahaan,” ujar Erick dalam keterangannya, Selasa, 13 Juli 2021.

    Erick mengungkapkan subholding ini bergerak di layanan kawasan industri terintegrasi dengan empat area utama, yakni kawasna industri, penyediaan energi, penyediaan air industri, dan pelabuhan. Adapun anak perusahaan yang tergabung dalam subholding adalah PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (PT KIEC), PT Krakatau Daya Listrik (PT KDL), PT Krakatau Tirta Industri (PT KTI), dan PT Krakatau Bandar Samudera (PT KBS).

    Menurut Erick, subholding ini harus memanfaatkan peluang arus masuk investasi ke Indonesia yang memerlukan dukungan kawasan industri dengan fasilitas terintegrasi dan berstandar internasional. Erick pun mencontohkan potensi pabrik Hot Strip Mill #2 Krakatau Steel yang memiliki kapasitas produksi 1,5 juta ton per tahun.

    Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan subholding sarana Infrastruktur memiliki pondasi yang kuat secara finansial. Empat perusahaan itu memiliki total pendapatan Rp 3,4 triliun dan nilai EBITDA sebesar Rp 1 triliun pada 2020.

    Capaian ini diklaim akan terus berkembang seiring dengan pertumbuhan kebutuhan kawasan industri di Indonesia.  “Subholding Sarana Infrastruktur Krakatau Steel ini diproyeksikan dapat menghasilkan pendapatan hingga Rp 7,8 triliun di lima tahun mendatang,” ujarnya.

    Sementara itu, EBITDA subholding sarana infrastruktur diproyeksikan meningkat mencapai Rp 2,2 triliun pada 2025.

    BACA: Jelaskan Soal Vaksin Gotong Royong Individu, Erick Thohir: Jangan Suudzon Dulu

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.