Ganjar: Soal Tenaga Kerja Asing Harus Transparan, Kalau Tidak Jadi Bulan-bulanan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ganjar Cerita Soal Percepatan Tangani Covid-19 dengan

    Ganjar Cerita Soal Percepatan Tangani Covid-19 dengan "Jogo Tonggo" | Foto: dok.Kementan

    TEMPO.CO, Jakarta – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengungkapkan berbagai tantangan dalam membangun kawasan industri, khususnya Kawasan Industri Batang. Ganjar menyatakan sempat terjadi berbagai distorsi saat kawasan ekonomi baru tersebut berjalan.

    Salah satu persoalan yang dihadapi, menurut Ganjar, adalah masuknya tenaga kerja asing di pabrik-pabrik yang dibangun investor. Politikus PDIP ini menyebut upaya investor mempekerjakan tenaga kerja dari luar negeri acap menjadi isu sosial yang disoroti publik.

    “Kalau kita bicara tenaga kerja asing (TKA), komunikasi politik betul-betul harus di-disclose sangat terbuka. Kalau memasukkan ini (TKA), publik perlu diberi penjelasan bagus, diberikan narasi baik. Kalau tidak, maka bisa jadi bulan-bulanan,” ujar Ganjar dalam webinar Investor Daily, Selasa, 13 Juli 2021.

    Ganjar mengklaim telah berpengalaman menghadapi persoalan sosial dalam pengembangan sektor industri. Menurut dia, masyarakat perlu diberikan berbagai uraian alasan mengapa investor mendatangkan tenaga kerja asing saat pabrik baru berjalan.

    “Harus ada penjelasan, kalau tenaga kerja kita bisa kerjakan sendiri, ya kita kerjakan sendiri. Tapi kenapa kita kerja dengan orang lain, karena ada yang tidak kita bisa,” ujar dia.

    Ganjar berujar, sejumlah perusahaan kini mulai tertarik menanamkan modal di Kawasan Industri Batang. Sejumlah investor, seperti perusahaan kaca dan pabrik susu, mulai masuk untuk berinvestasi. Dalam waktu dekat, perusahaan asal Korea Selatan, LG, juga akan merealisasikan investasinya di Jawa Tengah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.