Blantik Sapi Ini Tergiur Jadi Petani Porang, Raup Pendapatan Rp 500 Juta

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tanaman Porang Foto Litbang Kementerian Pertanian

    Tanaman Porang Foto Litbang Kementerian Pertanian

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua tahun lalu, Ali Fatah berprofesi sebagai blantik sapi atau pedagang hewan ternak tersebut. Namun itu dulu, sebelum dia beralih profesi menjadi petani porang.

    Kini Ali Fatah lebih banyak menghabiskan waktunya di ladang sambil mengawasi tanaman porang. Bukan lagi bergelut dengan sapi yang jadi sumber penghasilannya selama 10 tahun.

    Warga Dusun Tugu, Desa Pengkol, Kecamatan Jatiroto, Wonogiri itu telah beralih pekerjaan menjadi petani porang. Tingginya keuntungan menjadi alasan utama pria berusia 53 tahun ini meninggalkan pekerjaan sebagai belanti sapi dan menjadi petani porang.

    "Hitungan saya keuntungan yang didapatkan dari budidaya porang lebih tinggi sekitar 50 persen. Dengan asumsi modal yang sama, dalam satu tahun saya dapat hasil kotor dari blantik sapi Rp300 juta. Sementara dari budidaya porang bisa Rp 500 juta per tahun," kata Fatah, Minggu, 20 Juni 2021.

    Fatah kini tengah sibuk membudidayakan porang bersama empat pekerjanya. Bahkan belum lama ini ia mengirim hasil panen porang ke pabrik yang ada di Jawa Timur.

    "Saya menjadi blantik sapi sudah sepuluh tahun. Sejak dua hingga tiga bulan lalu saya berhenti total sebagai pedagang sapi. Sekarang fokus menanam porang. Kalau dua-duanya dijalankan tidak mampu," kata dia.

    Fatah mulai mencoba melakukan budi daya porang sejak awal 2020. Saat itu ia langsung menanam porang dengan jumlah banyak. Ia menghabiskan 380 kilogram bibit porang katak dan empat ton bibit porang umbi besar.

    "Pada 2020 itu saya gagal total. Cuma asal tanam kemudian saya tinggal. Saya kan juga belum pengalaman, kata orang cukup ditanam nanti bisa hidup. Ternyata malah tidak maksimal. Saat itu saya masih dagang sapi juga," ujarnya.

    Saat menanam porang kali pertama, ia mencoba menanam porang dua bibit di dekat rumah. Setelah dipanen, masing-masing menghasilkan umbi seberat 4,2 kilogram dan 3,7 kilogram.

    Melihat hasil itu, timbul semangat dari Fatah untuk kembali membudidayakan porang. Sekitar Oktober dan November 2020, Fatah kembali menaman porang dengan jumlah banyak.

    Ia menghabiskan 350 kilogram bibit katak dan lima ton bibit umbi besar. Sebagian lahan yang digunakan pada awal menanam tidak digunakan lagi. Justru ia punya lahan baru yang dinilai lebih cocok untuk ditanami porang.

    Kini lahan itu tersebar di 15 tempat. Sejak Mei 2021 Fatah mulai panen porang. Ia sudah dua kali mengirim umbi produksi hasil panen porang ke pabrik di Jawa Timur.

    Pengiriman pertama sebanyak 4,160 ton dan pengiriman kedua 5,4 ton. Porang hanya dibudidayakan selama satu musim atau delapan bulan karena bibitnya berasal dari umbi.

    Menurut Fatah, dari bibit umbi yang belum dipanen masih berpotensi menghasilkan umbi produksi sebanyak 12 ton. Panen umbi produksi dari jenis bibit umbi akan terus dilakukan bertahap. Dimungkinkan akan berlangsung hingga Agustus 2021.

    "Jadi yang saya panen yang dari bibit umbi. Kalau dari bibit katak belum saya panen umbi produksinya. Yang dipanen baru umbi katak yang ada di daun. Umbi katak di daun saya panen dapat sekitar satu ton," ujar dia.

    Dari hasil panen yang belum selesai Fatah lakukan, ia bisa memprediksi keuntungan yang diperoleh cukup besar. Ia tidak menghitung modal yang dikeluarkan secara detail. Namun ia memperkirakan hasil yang diperoleh lebih tinggi dari modal yang dikeluarkan.

    Dari bibit umbi yang ditanam Fatah menghasilkan umbi produksi sebanyak 20 ton. Saat ini, satu kilogram umbi produksi harganya Rp 7.500. Sehingga total sudah mendapatkan Rp 150 juta.

    Fatah juga telah memanen umbi katak di daun sebanyak satu ton. Satu kilogram bibit katak Rp 200.000. Sehingga jika dijual sudah dapat Rp 200 juta. "Dari situ sudah untung. Padahal umbi produksi yang dari bibit katak belum saya jual, masih ada di lahan. Selain itu harga umbi porang akan berangsur naik hingga Agustus 2021. Karena musimnya bagus, jadi harganya bagus juga," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.