Selama Pandemi, Garuda Indonesia Sudah Tawarkan Pensiun Dini 2 Kali

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Garuda Indonesia jenis Boeing 777-300ER yang membawa vaksin corona tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Ahad malam, 6 Desember 2020. Pesawat tersebut mendarat sekitar pukul 21.20 WIB. Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden.

    Pesawat Garuda Indonesia jenis Boeing 777-300ER yang membawa vaksin corona tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Ahad malam, 6 Desember 2020. Pesawat tersebut mendarat sekitar pukul 21.20 WIB. Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden.

    TEMPO.COJakarta - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. tercatat telah dua kali menawarkan program pensiun dini kepada pegawainya selama pandemi Covid-19. Pensiun dini pertama ditawarkan pada Juli 2020 sebagai langkah efisiensi perusahaan akibat tekanan krisis.

    Adapun tawaran pensiun dini disampaikan setelah perseroan mengambil kebijakan mempercepat masa kontrak karyawan tidak tetap. "Beberapa ratus orang sudah mengajukan pensiun dini," tutur Irfan saat ditemui Tempo di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Juli tahun lalu.

    Sejak pandemi, Garuda telah kehilangan pendapatannya dari penjualan tiket penumpang. Jumlah okupansi penumpang emiten berkode GIAA itu pun melorot tajam dengan kondisi terparah pada kuartal II 2020.

    Penumpang Garuda tak lebih dari 50 persen kapasitas. Jebloknya jumlah penumpang membuat keuangan perseroan goyang. Perusahaan pelat merah pun tercatat membukukan kerugian sebesar US$ 712,72 juta atau setara dengan Rp 10,34 triliun pada semester pertama 2020.

    Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, manajemen Garuda kala itu memastikan karyawan yang diberi tawaran pensiun dini adalah mereka yang sudah berusia 45 tahun ke atas. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra saat itu memastikan perusahaan memenuhi hak-hak terhadap karyawan, seperti pesangon.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.