Komposisi Pemain di Pasar Modal Balik ke Level Sebelum Booming Investor Ritel

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kedua kiri) berbincang dengan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kedua kanan), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Hoesen (kiri), dan Dirut Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi dalam pembukaan perdagangan IHSG tahun 2021 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 4 Januari 2021. Pada pembukaan ini, 210 saham melaju di zona hijau dan 103 saham di zona merah. Sedangkan 178 saham lainnya stagnan. TEMPO/Tony Hartawan

    Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kedua kiri) berbincang dengan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kedua kanan), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Hoesen (kiri), dan Dirut Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi dalam pembukaan perdagangan IHSG tahun 2021 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 4 Januari 2021. Pada pembukaan ini, 210 saham melaju di zona hijau dan 103 saham di zona merah. Sedangkan 178 saham lainnya stagnan. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Samuel Sekuritas Indonesia mencatat komposisi investor lokal di pasar modal mulai menurun. Dari sejumlah yang sempat mencapai angka 80 persen, kini turun menjadi 73 persen.

    "Ini balik ke level sebelum booming investor ritel," kata Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma dalam diskusi "Semarak Investor Pemula di Bursa Saham" di Instagram Live @Tempodotco pada Senin, 19 April 2021.

    Suria mengatakan jumlah investor ritel di pasar modal memang mengalami kenaikan sejak setahun terakhir. Puncaknya yaitu pada Januari 2021 dan membuat komposisi pemain lokal di pasar modal naik jadi 80 persen.

    Tapi saat ini, komposisi tersebut turun jadi 73 persen. Padahal, kata dia, jumlah institusi lokal atau asing yang ada di pasar modal tidak jauh berubah naik atau turun. "Jadi saya pikir ritelnya yang mulai turun," kata dia.

    Suria menilai kondisi ini tak lepas dari pola investasi yang dilakukan oleh anak muda yang masuk kategori investor ritel. Pertama, anak muda cenderung berinvestasi di pasar saham, ketimbang reksadana atau obligasi.

    Kedua, anak muda yang jadi pemain baru ini cenderung tidak melihat fundamental dan teknikal. Mereka cenderung membeli saham karena ikut dan temannya. "Temannya beli apa dia ikut beli, tanpa tahu yang dibeli perusahaan apa, bahkan kadang belum yakin dengan cerita itu," ujarnya.

    Kondisi inilah yang dikhawatirkan oleh Suria. Ia tak ingin juga untuk sesaat, jumlah investor ritel meningkat, lalu akhirnya mengalami kerugian dan kapok untuk berinvestasi saham.

    Situasi inilah, kata Suria, yang harus dihindari. Sebab, ada resiko-resiko dalam berinvestasi di pasar modal yang sebenarnya bisa dihindari. Sehingga, para investor ritel ini memang bisa menjadi investor jangka panjang, bukan sesaat saja. "Jadi memang ini harus kita jaga bersama," kata dia.

    Baca Juga: Samuel Sekuritas Jelaskan Alasan Investor Retail di Pasar Modal Terus Bertambah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H