2 Industri Berpotensi Lahir dari Perempuan Indonesia: Tanaman Hias dan Batik

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perajin mengunggah batik karyanya ke pasar digital di sela mengikuti Pameran Batik 2020 di Gedung DPRD Malang, Jawa Timur. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

    Perajin mengunggah batik karyanya ke pasar digital di sela mengikuti Pameran Batik 2020 di Gedung DPRD Malang, Jawa Timur. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

    TEMPO.CO, Jakarta - Terdapat dua industri yang berpotensi dikuasai oleh kaum perempuan Indonesia. Selama ini, dua industri tersebut memang banyak didominasi oleh kaum perempuan.

    Industri pertama adalah industri atau bisnis tanaman hias dan kedua industri batik. Proyeksi itu terungkap dalam seminar daring Perempuan Bermartabat: Kunci Kemandirian Bangsa yang digelar Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada pada Kamis 15 April 2021.

    Pada acara tersebut, Ketua Umum Ikatan Perangkai Bunga Indonesia atau IPBI Lucia Raras P, menuturkan tanaman hias punya potensi besar untuk menggerakkan perekonomian di masa pandemi seperti sekarang.

    Menurut Lucia, tren tanaman hias terus berkembang dan kian membuka potensi-potensi ekonomi seiring dengan berubahnya gaya hidup manusia modern. Berkat teknologi, bekerja dari rumah menjadi pilihan. Hal ini memicu kebutuhan peningkatan estetika di rumah.

    Indonesia yang kaya akan hortikultura juga menjadi modal bagi perkembangan tren tanaman hias dan peluang besar bagi petani dan industri bunga di tanah air.

    Industri kedua yang berpotensi bisa dikuasai kaum perempuan ndonesia adalah batik tulis. Laretna T. Adishakti, dosen UGM dan pewaris kebudayaan, mengungkapkan industri batik tulis Indonesia berpotensi besar menjadi industri padat karya.

    Dia mencontohkan dalam proses produksi satu batik tulis saja telah melibatkan banyak pihak, mulai dari dari petani tanaman Indigo (pewarna alami yang digunakan untuk batik tulis), pihak yang memproduksi kain, Maestro atau pengrajin batik, dan lain sebagainya.

    Status batik tulis yang resmi diakui oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia menjadi potensi untuk pengembangan batik di sektor bisnis.

    Kaum perempuan bisa membawa industri batik lebih besar lagi karena kekuatan utama dari batik terletak pada produknya yang ramah lingkungan sehingga tak heran jika batik menjadi bagian dari pergerakan Green Fashion dunia.

    “Batik Indonesia terpilih oleh UNESCO karena sangat membumi, menggunakan material dan pewarna alami dari alam, itu kekuataannya,” kata Laretna seperti dikutip Tempo dari laman UGM, Minggu 18 April 2021.

    Karena itu, batik sebagai industri padat karya, kata Laretna bisa mendukung suistanable development yang menjadi tren global saat ini.

    Dan yang terpenting, kata dia, industri batik Indonesia mempunyai nilai tinggi karena perempuan-lah yang menajdi maestro atau pengrajin batik itu sendiri. Keterampilan perempuan-perempuan Indonesia dalam membatik tidak ada lawan tandingnya

    “Tidak ada yang bisa menandingi keahlian serta keterampilan maestro batik (Indonesia),” kata Laretna.

    RAUDATUL ADAWIYAH NASUTION

    Baca juga: Berkat Batik, Desainer Entin Gartini jadi The Best Designer di Ottawa Award 2021


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.