Jokowi Tantang Sandiaga Uno: Kok Cuma 244 Desa Wisata?

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi (kanan) berbincang dengan mantan Ketua Umum HIPMI Sandiaga Uno (kiri) sebelum menghadiri acara pelantikan BPP HIPMI periode 2019-2022 di Jakarta, Rabu, 15 Januari 2020. Pelantikan ini mengusung tema peningkatan kualitas SDM pengusaha muda indonesia dalam menyambut era bonus demografi. ANTARA /Akbar Nugroho Gumay

    Presiden Jokowi (kanan) berbincang dengan mantan Ketua Umum HIPMI Sandiaga Uno (kiri) sebelum menghadiri acara pelantikan BPP HIPMI periode 2019-2022 di Jakarta, Rabu, 15 Januari 2020. Pelantikan ini mengusung tema peningkatan kualitas SDM pengusaha muda indonesia dalam menyambut era bonus demografi. ANTARA /Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno kini sedang mengembangkan 244 desa wisata hingga 2024. Di tengah upaya ini, Sandi bercerita pernah mendapat tantangan dari Presiden Joko Widodo.

    "Pak Presiden challenge saya, kok cuma 244," kata Sandiaga dalam webinar pada Rabu, 7 April 2021.

    Baca Juga: Terkini Bisnis: Kekhawatiran Erick Thohir, Cerita Sandiaga soal Canggu Bali

    Sandi kemudian mengatakan ke Jokowi bahwa Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) memang cuma memberikan alokasi 244 saja. Meskipun, kata Sandi, Indonesia memiliki 75 ribu desa.

    Di mana, 1000 lebih dari jumlah tersebut memiliki keunggulan untuk dikembangkan menjadi desa wisata. Untuk itu, Sandi kini telah bergerilya menjalin kerja sama untuk pengembangan desa wisata ini.

    Pada 22 Januari 2021, Sandi menggandeng Asosiasi Pengusaha Pribumi Indonesia (Asprindo). Lalu dalam webinar ini, Sandi juga meminta waktu untuk bertemu dengan Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk atau BCA Jahja Setiaatmadja.

    Sandi mau mengajak BCA untuk menambah jumlah desa binaan dari perbankan tersebut dari yang kini berjumlah 12. 12 desa binaan BCA ini tersebar dari Bali sampai Sumatera, yang salah satunya bergerak di bidang pengembangan pariwisata.

    Menurut Sandi, pengembangan desa wisata ini tak ubahnya seperti perusahaan rintitas alias startup. Jika dulu misalnya Gojek adalah startup, maka kini jadi unicorn.

    Begitupun dengan desa wisata. Ada desa wisata yang masih pengembangan alias startup, kata Sandi, maka ada juga desa yang sudah mandiri atau berkembang menjadi unicorn. "Di Jawa, ada beberapa desa wisata yang sudah berkembang menjadi unicorn," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.