Ombudsman: Stok Aman, Tidak Perlu Impor Beras dalam Waktu Dekat

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung Ombudsman RI [Ombudsman]

    Gedung Ombudsman RI [Ombudsman]

    TEMPO.CO, Jakarta – Ombudsman RI meminta pemerintah menunda keputusan impor beras 1,5 juta ton lantaran cadangan di dalam negeri masih mencukupi. Berdasarkan data yang dihimpun, Ombudsman mencatat stok beras seluruhnya saat ini masih sekitar 6 juta ton.

    “Stok beras masih relatif aman dan tidak memerlukan impor dalam waktu dekat,” ujar anggota Ombudsman, Yeka Hendra Fatika, dalam konferensi pers yang digelar secara virtual pada Rabu, 24 Maret 2021.

    Menurut data yang dilaporkan Kementerian Perdagangan, stok beras di gudang Bulog per 14 Maret tercatat sebesar 883.585 ton. Dari jumlah tersebut, 859 ribu di antaranya merupakan cadangan beras pemerintah dan 23,7 ribu ton adalah stok beras komersial.

    Meski 400 ribu ton di antaranya diklaim turun mutu sehingga tinggal menyisakan cadangan kurang dari 500 ribu ton, Yeka menyebut stok beras masih beredar di tempat lain atau di luar gudang Bulog. Pada Februari 2021, Ombudsman mendata stok beras di penggilingan masih 1 juta ton.

    Kemudian stok di lumbung pangan masih ada sebanyak 6.300 ton, di Pasar Induk Cipinang 30,6 ribu ton, di rumah tangga sebanyak 3,2 juta ton, dan tempat lain 260,2 ribu ton. Bila diakumulasikan, jumlah stok beras yang ada saat ini masih 6 juta ton.

    Kemudian indikasi kecukupan cadangan beras juga dilihat dari stok yang ada di Jabodetabek. Ombudsman mencatat ada sebanyak 3.300-3.500 ton beras per hari di wilayah Ibu Kota dan sekitarnya atau surplus dari kebutuhan normal yang sebesar 3.000 ton per hari. Dari angka tersebut, Ombudsman menilai kondisi ini menunjukkan bahwa petani memasuki panen raya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    6 Rumor yang Jadi Nyata pada Kelahiran GoTo, Hasil Merger Gojek dan Tokopedia

    Dua tahun setelah kabar angin soal merger Gojek dengan Tokopedia berhembus, akhirnya penggabungan dua perusahaan itu resmi dan lantas melahirkan GoTo.