Menteri ESDM: Pemanfaatan EBT pada Bauran Energi Nasional Baru 11,2 Persen

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melihat salah satu instalasi dalam pameran Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) ke-7 di Jakarta Convention Center, Selasa, 13 Agustus 2019. Acara yang bertema

    Pengunjung melihat salah satu instalasi dalam pameran Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) ke-7 di Jakarta Convention Center, Selasa, 13 Agustus 2019. Acara yang bertema "Making Geothermal the Energy of Today" bertujuan untuk mempromosikan energi terbarukan khususnya energi panas bumi. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan porsi pemanfaatan energi baru terbarukan atau EBT pada bauran energi nasional baru mencapai 11,2 persen. Sedangkan batu bara 38 persen, minyak bumi 31,6 persen, dan gas bumi 19,2 persen.

    "Ke depan target peran EBT semakin meningkat di 23 persen pada 2025," kata Arifin dalam rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Senin, 22 Maret 2021.

    Dia melihat tren pertumbuhan energi baru terbarukan menunjukkan semakin baik dan gap capaian dengan target makin kecil. Hal ini merupakan dampak positif pembangunan EBT yang cepat seperti adanya PLTS dan bahan bakar nabati.

    Baca Juga: Pertamina Bidik Produksi Kilang Green Avtur di Cilacap Dimulai Akhir 2021

    Menurut Arifin, kapasitas terpasang pembangkit listrik sampai 2025 ditargetkan sebesar 101,6 GW terdiri dari 72 GW kapasitas terpasang saat ini ditambah dengan 29,6 GW sesuai draft RUPTL usulan pemerintah.

    Percepatan pengembangan EBT, menurutnya, perlu mempertimbangkan realitas kebutuhan energi, keekonomian yang wajar memberikan kesempatan pertama kepada energi terbarukan.

    Menurut dia ada beberapa upaya dalam mempercepat pemanfaatan EBT antara lain penambahan kapasitas EBT untuk memenuhi permintaan baru dengan fokus kepada PLTS, subtitusi energi primer/final. Selain itu tetap menggunakan eksisting teknologi melalui B30, co-firing, pemanfaatan Bahan Bakar Alternatif Refuse Derived Fuel(RDF), konversi energi primer fosil, terjadi penggantian teknologi pembangkit/konversi, PLTD atau PLTU digantikan PLTBT, biogas dan pellet untuk memasak.

    "Serta pemanfaatan EBT non listrik/non BBN seperti briket/woodchip/pellet dan pengolahan dan pengeringan produk pertanian," ujarnya.

    Dia juga mengatakan pada 2019 bauran EBT Indonesia tercatat 9,18 persen, masih lebih rendah dibandingkan dengan EBT bauran negara lain seperti Korea Selatan, Jepang, Rusia, Cina, Vietnam, Argentina, USA, Turki, Inggris Raya, Uni Eropa, Kanada, Brazil. Tapi juga masih lebih tinggi dibanding India, Australia, Mexico, Malaysia, Thailand, Afrika Selatan, dan Saudi Arabia.

    "Untuk itu diperlukan percepatan peningkatan bauran EBT dengan fokus pada pemanfaatan EBT yang lebih cepat dibangun dengan harga kompetitif mengingat negara-negara yang masih di bawah Indonesia sekarang sudah menyiapkan program-program yang agresif untuk meningkatkan baurannya," kata Menteri ESDM Arifin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Operasi Ketupat 2021 Demi Menegakkan Larangan Mudik, Berlaku 6 Mei 2021

    Sekitar 166 ribu polisi diterjunkan dalam Operasi Ketupat 2021 untuk menegakkan larangan mudik. Mereka tersebar di lebih dari 300 titik.