KNKT: Beberapa Kecelakaan Terjadi karena Sopir Mengikuti Mbah Google

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono memberikan keterangan terkait penemuan bagian kotak hitam (black box) berisi CVR pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 saat konferensi pers di Pelabuhan JICT Tanjung Priok, Jakarta, 14 Januari 2019. Sebelum penemuan CVR, bagian black box Lion Air lain berupa flight data recorder (FDR) yang berisi data mengenai kecepatan, arah, dan ketinggian pesawat, telah ditemukan pada Kamis, 1 November 2018. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono memberikan keterangan terkait penemuan bagian kotak hitam (black box) berisi CVR pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 saat konferensi pers di Pelabuhan JICT Tanjung Priok, Jakarta, 14 Januari 2019. Sebelum penemuan CVR, bagian black box Lion Air lain berupa flight data recorder (FDR) yang berisi data mengenai kecepatan, arah, dan ketinggian pesawat, telah ditemukan pada Kamis, 1 November 2018. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan insiden kecelakaan acap terjadi lantaran sopir kendaraan salah memilih jalan. Jalur yang berisiko yang dihadapi para sopir tak jarang merupakan hasil rekomendasi dari aplikasi penunjuk arah, yakni Google Maps.

    “Beberapa kecelakaan terjadi karena (sopir) mengikuti Mbah Google, masuk jalan kecil, jalannya turun tajam,” ujar Soerjanto dalam diskusi virtual, Rabu, 17 Maret 2021.

    Sorjanto mencontohkan insiden kecelakaan bus pariwisata Sri Padma Kencana yang terjadi di Sumedang sepekan lalu. Kecelakaan ini mengakibatkan 66 penumpang masuk ke jurang dan 27 di antaranya tewas.

    Sopir yang membawa armada itu diketahui menggunakan aplikasi Google Maps akibat tidak tahu jalan saat membawa penumpang pulang. Namun, jalan yang direkomendasikan ternyata tidak bisa dilalui bus besar. Akhirnya, bus terperosok di Tanjakan Cae.

    Soerjanto mengatakan KNKT telah berkomunikasi dengan pihak Google untuk memblokir jalan-jalan alternatif yang membahayakan agar mencegah adanya kecelakaan serupa di kemudian hari. Di sisi lain, ia meminta masyarakat bijak saat menggunakan teknologi, khususnya dalam memilih jalan yang direkomendasikan oleh sebuah aplikasi.

    “Kita harus bijak menggunakan teknologi 4.0. Seperti Mbah Google itu itu baik, tapi kadang-kadang juga enggak baik,” ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.