Bos BCA Yakin Pertumbuhan Dana Murah Bakal Dorong Kenaikan Aset Tahun Ini

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Direktur PT Bank Central Asia (BCA), Tbk Jahja Setiaatmadja (kedua kanan) didampingi Kepala Kantor Wilayah X Iwan Senjaya (ketiga kanan) menyapa nasabah pada peringatan Hari Pelanggan Nasional di kantor cabang utama BCA di Jakarta, Selasa, 4 September 2018. Hari Pelanggan Nasional diperingati setiap 4 September. ANTARA/Audy Alwi

    Presiden Direktur PT Bank Central Asia (BCA), Tbk Jahja Setiaatmadja (kedua kanan) didampingi Kepala Kantor Wilayah X Iwan Senjaya (ketiga kanan) menyapa nasabah pada peringatan Hari Pelanggan Nasional di kantor cabang utama BCA di Jakarta, Selasa, 4 September 2018. Hari Pelanggan Nasional diperingati setiap 4 September. ANTARA/Audy Alwi

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. atau BCA, Jahja Setiaatmadja, menyatakan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) masih berkontribusi besar terhadap akumulasi aset bank yang dipimpinnya tersebut.

    Jahja pun optimistis tren pertumbuhan aset pada tahun ini dapat terjaga seiring dengan pembukaan rekening baru melalui digital yang masih tinggi. "Ini pembukaan rekening online sudah naik dari hanya 500 per hari menjadi sekarang sudah 9.000. Namun, yang open account, rata-rata saldo masih kecil," ucapnya, Senin, 8 Maret 2021.

    Aset BCA tumbuh sebesar 17 persen pada tahun lalu. Kenaikan aset tersebut di antaranya dipicu oleh peningkatan dana pihak ketiga, khususnya pada dana murah.

    Dana murah (current account saving account/CASA) bank dengan kode emiten BBCA ini tumbuh 21 persen year-on-year (yoy) dan mencapai Rp 643,9 triliun.

    Sementara itu, deposito berjangka meningkat sebesar 14 persen yoy menjadi Rp 196,9 triliun. Jahja menjelaskan pondasi bisnis perbankan transaksi BCA tergolong cukup matang pada masa pandemi.

    Untuk memperkuat franchise perbankan transaksi, kata Jahja, perseroan fokus untuk terus memperluas basis nasabah sekaligus mengembangkan solusi digital secara konsisten. Dengan bisnis sampingan pada lini treasury, perseroan juga masih mampu menjaga percetakan laba dengan imbal hasil yang cukup tinggi.

    Sepanjang tahun lalu, BCA membukukan laba bersih Rp 27,13 triliun karena pencadangan yang lebih tinggi untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas aset. Bila dibandingkan dengan kinerja pada tahun 2019, raihan tersebut turun 5,14 persen secara tahunan (yoy) yang mampu meraih laba bersih senilai Rp 28,6 triliun. 

    BISNIS

    Baca: Direktur BCA Beberkan 3 Sebab Utama Ganti Kartu ATM ke yang Berbasis Chip


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.