Mile 72 hingga Mile 73 Sempat Ditutup karena Banjir, Freeport: Tak Ada Kerusakan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Riza Pratama, juru bicara PT Freeport Indonesia (PTFI). TEMPO/Nita Dian

    Riza Pratama, juru bicara PT Freeport Indonesia (PTFI). TEMPO/Nita Dian

    TEMPO.CO, Timika - Juru Bicara PT Freeport Indonesia merangkap Vice President Bidang Corporate Communications Riza Pratama memastikan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur akibat banjir di kawasan Tembagapura.

    Menurut Riza, curah hujan yang tinggi di kawasan Tembagapura sejak Sabtu siang hingga petang menyebabkan akses jalan tambang dari Mile 72 hingga Mile 73 sempat ditutup sementara.

    "Memang curah hujan yang tinggi pada Sabtu (6/3) sore menyebabkan akses jalan di MP 72-73 sempat ditutup sementara. Material yang sempat menutupi akses jalan sudah dibersihkan dan sekarang kendaraan sudah bisa melintas," kata Riza saat dihubungi dari Timika, Minggu, 7 Maret 2021.

    Seorang karyawan PT Freeport menyebut akibat hujan deras pada Sabtu, akses jalan di antara Mile 72 hingga Mile 73 tidak bisa dilalui karena jalanan dipenuhi material bebatuan. Kondisi itu membuat pergantian kru tambang sempat terganggu.

    Kawasan Tembagapura dan sekitarnya selama ini dikenal sebagai wilayah dengan curah hujan tertinggi di Indonesia.

    Kota Tambang Freeport yang berada di ketinggian 2.000-an meter di atas permukaan laut itu cukup rawan dilanda banjir dan longsor saat curah hujan tinggi lantaran diapit oleh beberapa sungai dengan kondisi topografis bergunung-gunung terjal.

    Pada Agustus 2017, banjir bandang menerjang Kota Tembagapura mengakibatkan sejumlah fasilitas milik PT Freeport mengalami kerusakan berat seperti jalan, jembatan, jaringan listrik, barak karyawan, termasuk RS Tembagapura yang dikelola Internasional SOS.

    ANTARA

    Baca juga: Luhut: Freeport dan Tsingshan Akan Teken Kontrak Rp 39,2 T untuk Smelter Tembaga


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.