Erick Thohir Ingin PFN Jadi Lembaga Pembiayaan, Tak Lagi Bikin Film

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Syuting film anak-anak

    Syuting film anak-anak "Si Unyil" di PPFN (Pusat Produksi Film Negara), Mei 2002. dok. TEMPO/ Fernandez Hutagalung

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir berencana mengubah Perum Produksi Film Negara atau PFN menjadi lembaga pembiayaan film dan konten. Nantinya, perusahaan film pelat merah ini diharapkan mendukung industri perfilman belakangan terdampak pandemi.

    "PFN kita enggak mau dengan kondisi industri perfilman saat ini, industri konten lagi berat karena covid, bioskop tutup, PFN kita sedang ubah menjadi lembaga pembiayaan film dan konten. Kalau PFN bikin film juga, sama aja bohong," ujar Erick dalam Rapat Kerja Nasional HIPMI, Jumat, 5 Maret 2021.

    Nantinya, kata Erick Thohir, sinergitas PFN juga harus didukung oleh Badan Usaha Milik Negara lain, misalnya Telkom. Pasalnya, ia mengatakan dunia perfilman dan media pun berubah dengan adanya platform digital.

    "Sekarang eranya Netflix, Disney Hotstar dan segala macam. Media juga berubah, radio berubah ada Clubhouse," kata Erick.

    Dengan demikian, Erick tak mau PFN menjadi menara gading. Perusahaan pelat merah itu, menurut dia, harus bersinergi dengan komunitas yang biasa membuat film dan konten. Selain dengan komunitas pembuat konten, ia mengatakan PFN juga harus bersinergi dengan Telkom untuk distribusi dan pembelian film-nya.

    "Kalau tidak maka tidak akan balik modal. Sepuluh kali bikin film, sembilan gagal, satu untung, mana ada bank yang mau biayai. Hal ini kita coba insurance dengan ekspansi pasar, infrastruktur yang ada di Telkom dan Telkomsel," ujar dia.

    Sebelumnya Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Perum Produksi Film Negara (PFN) dan PT Balai Pustaka (Persero) menandatangani nota kesepahaman (MoU) integrasi dalam satu klaster media Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

    Direktur Utama PFN Judith J Dipodiputro mengatakan nota kesepahaman ini akan menjadi batu lompatan bagi ketiga BUMN tetap bertahan tidak hanya dari tantangan pandemi Covid-19 tetapi juga tantangan masa depan BUMN.

    CAESAR AKBAR | ANTARA

    Baca: Dahlan Iskan Perkirakan Ada 30 BUMN Sudah Mati dan Belum Dikubur


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.