Resmikan Bendungan Sindang Heula, Jokowi: Ini Nanti Hydropower

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Indonesia, Joko Widodo saat menghadiri peresmian Bendungan Napun Gete, Kabupaten Sikka, NTT, 23 Februari 2021. Foto/youtube.com

    Presiden Indonesia, Joko Widodo saat menghadiri peresmian Bendungan Napun Gete, Kabupaten Sikka, NTT, 23 Februari 2021. Foto/youtube.com

    TEMPO.CO, Jakarta -Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengutarakan beberapa manfaat dari beroperasinya Bendungan Sindang Heula, Serang, Banten, yakni di antaranya sebagai pemasok air baku bagi kawasan industri yang terus berkembang di Banten.

    Kawasan industri yang akan memperoleh pasokan air baku dari Sindang Heula di antaranya adalah industri di Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Kota Cilegon.

    Baca Juga: Jokowi Ingatkan Mendag: Jangan Terjebak Pasar Ekspor yang Itu-itu Saja

    “Bendungan ini mampu berikan air baku hingga 0,80 meter kubik per detik. Ini sudah dimulai digunakan oleh provinsi separuhnya 0,40 meter kubik per detik,” kata Jokowi saat meresmikan bendungan tersebut di Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Banten, Kamis, 4 Maret 2021.

    Turut mendampingi Jokowi dalam peresmian itu Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimoeljono, dan Gubernur Banten Wahidin Halim.

    Bendungan yang dibangun sejak 2015 ini juga dapat berfungsi untuk mengendalikan banjir dengan kemampuan mereduksi banjir 50 meter kubik per detik dari daerah-daerah yang biasanya terjadi banjir di Kabupaten Serang seperti kawasan bantaran Sungai Ciujung dan Cidurian.

    “Bendungan ini juga berfungsi sebagai pembangkit listrik, bisa menghasilkan 0,40 megawatt, sehingga ke depan bisa dimanfaatkan juga oleh Provinsi Banten dan kita tidak ingin tergantung pada energi fosil, karena ini nanti berarti hydropower,” kata Jokowi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.