Cara Perajin Tahu Kulon Progo Siasati Produksi Saat Harga Kedelai Mahal

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pabrik tahu tempe di sentra produksi yang berlokasi di Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, pada Kamis, 7 Januari 2021. Tempo/Fajar Pebrianto

    Suasana pabrik tahu tempe di sentra produksi yang berlokasi di Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, pada Kamis, 7 Januari 2021. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Perajin tahu di Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, tetap bertahan memproduksi tahu. Meski mereka harus mengurangi ukuran tahu untuk menyikapi tingginya harga kedelai impor yang mencapai Rp 10.200 per kilogram sejak dua minggu terakhir.

    "Kami terpaksa memperkecil ukuran tahu. Itu pun kami tidak menghitung biaya tenaga produksi. Kami hanya berpikir supaya balik modal dan tetap bisa berproduksi," kata perajin tahu Desa Tuksono Wasiyem di Kulon Progo, Minggu, 28 Februari 2021.

    Baca Juga: Harga Kedelai Naik, Budi Waseso: Permainan Importir

    Ia mengakui sejak Oktober 2020, dirinya mengurangi ukuran tahu. Saat itu, harga kedelai masih berkisar Rp 9.200 per kilogram. Saat ini, harga kedelai impor sudah Rp 10.200 per kilogram. Awalnya, konsumen tahu banyak yang komplain karena ukuran kecil dan dianggap mahal.

    "Seiring waktu, konsumen tahu sudah mengetahui harga kedelai sangat tinggi, sehingga tidak ada protes lagi," katanya.

    Meski harga kedelai mahal, Wasiyem mengatakan dirinya setiap hari memproduksi tahu dengan menghabiskan 70 kilogram kedelai. Keuntungan yang didapat dari ampas atau sisa produksi yang bisa dijual kepada pemilik ternak sapi.

    "Penjualan ampas bisa untuk membeli kayu bakar, sehingga bisa menutup biaya produksi yang dikeluarkan, meski biaya tenaga sudah tidak dihitung karena dikerjakan sendiri," katanya.

    Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kulon Progo Dewantoro mengatakan perajin tahu di Kulon Progo, khususnya di sentra industri tahu di Desa Tuksono semua masih bertahan produksi.

    Ia memahami perajin tahu mengurangi ukuran tahu supaya dapat bertahan. Selain itu, untuk menyiasati konsumen tetap membeli tahu dengan jumlah yang sama, dengan ukuran yang lebih kecil.

    "Dengan kondisi harga kedelai, dan kondisi pandemi Covid-19, kami bisa memahaminya. Yang terpenting mereka bisa bertahan berproduksi," katanya.

    Ia mengakui pihaknya mendapat laporan ada beberapa perajin tempe berskala kecil tidak memproduksi tempe sejak harga kedelai naik di atas Rp 9.000 per kilogram. Tingginya harga kedelai tidak seimbang dengan biaya produksi yang dikeluarkan, sehingga mereka memilih tidak berproduksi.

    "Ambang batas harga kedelai bagi perajin tahu dan tempe itu pada kisaran Rp 7.000 hingga Rp 7.500 per kilogram. Kalau harga kedelai sudah di atas itu, tentu berdampak pada kemampuan berproduksi dan bertahan dengan kondisi yang ada," katanya.

    Menyikapi hal itu, Disperindag Kulon Progo tidak bisa berbuat banyak karena harga kedelai mengikuti harga pasar. Selain itu, kedelai tidak masuk komoditas kebutuhan pokok, sehingga tidak ada campur tangan dari pemkab."Kami hanya bisa memantau perajin tahu supaya tetap bertahan," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Siapakah Shang-Chi, Pahlawan Terbaru Marvel?

    Marvel Studios merilis trailer baru untuk film Shang-Chi and The Ten Rings yang akan tayang pada September 2021.