Harga Bitcoin Melonjak 422,42 Persen Setahun, Analis Ingatkan Ada Risiko Ini

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Di Indonesia, Bitcoin sudah memiliki legalitas. Bitcoin dan aset kripto diatur oleh Kementerian Perdagangan. Indodax sebagai tempat perdagangan kripto secara online saat ini telah terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi (Bappebti). REUTERS/Dado Ruvic

    Di Indonesia, Bitcoin sudah memiliki legalitas. Bitcoin dan aset kripto diatur oleh Kementerian Perdagangan. Indodax sebagai tempat perdagangan kripto secara online saat ini telah terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi (Bappebti). REUTERS/Dado Ruvic

    TEMPO.CO, JakartaKepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengimbau calon investor untuk berhati-hati dalam berinvestasi di perdagangan aset kripto, termasuk Bitcoin. Sebab, meskipun dalam setahun terakhir tren harga mata uang digital ini menguat, instrumen Bitcoin tetap mengandung risiko. 

    Terus meroketnya harga aset kripto hingga 422,42 persen ini pula yang kian mendorong para investor untuk memilih Bitcoin sebagai salah satu aset instrumen investasi. Berdasarkan data Bappebti, kini terdapat 3 juta investor lokal yang terlibat perdagangan aset kripto. 

    Kenaikan yang signifikan itu pun berhasil mengundang pembeli ritel sehingga harga semakin menguat. Selain itu, proses halving Bitcoin yang terjadi pada tahun lalu juga mendorong penguatan harga.

    Halving day merupakan jadwal pengurangan reward per blok Bitcoin yang akan diterima oleh penambang atau miner Bitcoin menjadi separuhnya, atau dari semula sebesar US$ 12,5 per Bitcoin menjadi hanya US$ 6,25 per Bitcoin. Hal tersebut yang kemudian membuat koin yang beredar di pasar tidak sebanyak saat ini, sehingga harga Bitcoin terdorong naik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.