Bos BRI Jelaskan Sebab Bisnis UMKM Lesu di Akhir Tahun 2020

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi usaha mikro kecil menengah (UMKM).

    Ilustrasi usaha mikro kecil menengah (UMKM).

    Menurut Sunarso, komponen yang mengalami penurunan terbesar adalah volume produksi dan nilai penjualan. Sehingga, volume persediaan barang input, barang jadi, serta penggunaan tenaga kerja juga lebih rendah dari kuartal sebelumnya.

    Sementara jika sektoral, maka hampir semua sektor mengalami penurunan, kecuali sektor industri pengolahan. "Penurunan tertinggi terjadi pada sektor hotel dan restoran," kata Sunarso.

    Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki sebelumnya mengatakan kontribusi ekspor UMKM masih rendah."Ini saya kira pekerjaan rumah kita bersama. Karena itu saya kira tepat dengan agenda menambah 500 ribu eksportir baru," kata Teten dalam Peresmian Program Kolaborasi Akselerasi Mencetak 500 ribu Eksportir Baru di 2030, Rabu, 17 Februari 2021.

    Dia berharap program itu bisa menambah lebih banyak lagi UMKM yang melakukan ekspor. Teten melihat UMKM banyak memiliki produk potensial untuk diekspor, seperti pertanian, perikanan, furniture, dekorasi rumah, kosmetik, herbal produk, dan busana muslim.

    Melihat potensi itu, Kemenkop akan fokus menyiapkan kapasitas dan daya saing produk. Menurutnya, perlu dilakukan pendampingan berkelanjutan, karena UMKM kebanyakan membuat usaha bukan sepenuhnya untuk bisnis, tapi secara tidak sengaja.

    FAJAR PEBRIANTO | HENDARTYO HANGGI 

    Baca: 47 BUMN Baru Segera Gabung Marketplace Bikinan Erick Thohir Cs


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.