Insentif PPnBM, Ekonom: Kondisi Belum Stabil, Masyarakat Pilih Menabung

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sri Mulyani. Instagram/@smindrawati

    Sri Mulyani. Instagram/@smindrawati

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah berupaya mendorong permintaan dan penawaran di sektor manufaktur, khususnya otomotif yang lesu karena pandemi Covid-19 dengan kebijakan insentif penurunan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM).

    Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan bahwa stimulus tersebut umumnya menyasar kepada kelompok menengah ke atas. Kendati begitu, segmen masyarakat itu justru dinilai cenderung menabung dibandingkan berbelanja.  

    Dengan kondisi pemulihan ekonomi yang belum stabil, jelasnya, masyarakat tentu akan meningkatkan jumlah tabungan untuk mengantisipasi jika kondisi tidak lebih baik setelah berbagai upaya pemerintah dalam menghentikan penyebaran pandemi yang sangat krusial.

    Insentif pajak menjadi tidak masalah asalkan dilakukan di momentum yang pas dan mendahulukan skala prioritas. Momentum yang pas adalah ketika pemulihan ekonomi sudah berjalan lebih stabil dan cepat karena penanganan dari sisi kesehatan sudah optimal,” katanya saat dihubungi, Minggu, 14 Februari 2021.

    Yusuf menjelaskan bahwa kebijakan tersebut sangat menguntungkan industri otomotif. Sektor ini merupakan salah satu yang strategis karena merupakan salah satu yang terbesar dan sifatnya industri padat karya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.